JEJAK KHILAFAH DI NUSANTARA

Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam memerintahkan kepada kaum muslimin agar mereka mengangkat seorang khalifah setelah beliau Shalallahu alaihi wasalam wafat, yang dibai’at dengan bai’at syar’i untuk memerintahkan kaum muslimin berdasarkan Kitabullah (Al Qur’an) dan As Sunnah. Menegakkan syari’at Allah, dan berjihad bersama kaum muslimin melawan musuh-musuh Allah.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “…Sesungguhnya tidak ada Nabi setelah aku, dan akan ada para khalifah, dan banyak (jumlahnya)…”. (HR. Muslim). Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam berwasiat kepada kaum muslimin, agar jangan sampai ada masa tanpa adanya khalifah (yang memimpin kaum muslimin). Jika hal ini terjadi, dengan tiadanya seorang khalifah, maka wajib bagi kaum muslimin berupaya mengangkat khalifah yang baru, meskipun hal itu berakibat pada kematian. Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam juga bersabda, “Jika kalian menyaksikan seorang khalifah, hendaklah kalian taat, walaupun (ia) memukul punggungmu. Sesungguhnya jika tidak ada khalifah, maka akan terjadi kekacauan”. (HR. Thabrani).

Jika kita bisa menelusuri lebih dalam literatur klasik dari sumber-sumber Islam, maka janganlah kaget bila kita akan menemukan bahwa banyak sekali kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara zaman dulu itu sesungguhnya merupakan bagian dari kekhalifahan Islam di bawah Turki Utsmaniyah.

Di ikat kesatuan aqidah yang kuat, Aceh Darusalam mengikatkan diri dengan Kekhalifahan Islam Turki Ustmaniyah. Sebuah arsip Utsmani berisi petisi Sultan Alaiddin Riayat Syah kepada Khalifah Sulaiman Al-Qanuni, yang dibawa Huseyn Effendi, membuktikan jika Aceh mengakui penguasa Utsmani di Turki sebagai Kekhalifahan Islam. Khalifah Sulaiman Al-Qanuni wafat pada 1566 M digantikan Khalifah Selim II yang segera memerintah kan armada perangnya untuk melakukan ekspedisi militer ke Aceh, ini juga bukti bahwa Aceh merupakan bagian dari Kekhalifahan Turki Utsmani.

Selain Aceh, sejumlah kesultanan di Nusantara juga telah bersekutu dan merapatkan shafnya kepada Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, seperti Kesultanan Buton, Sulawesi Selatan. Salah satu Sultan Buton, Lakilaponto, dilantik menjadi “Sultan” dengan gelar Qaim ad-Din yang memiliki arti “penegak agama”, yang dilantik langsung oleh Syekh Abdul Wahid dari Mekkah. Sejak itu, Sultan Lakiponto dikenal sebagai Sultan Marhum.

Di Barat pulau Jawa yaitu Banten sejak awal juga memang meganggap dirinya sebagai Kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada dibawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar “Sultan” dari Syarif Mekah. Pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Khalifah Turki. Di Istambul dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili dengan tertera “dicetak oleh Sultan Turki, Khalifah seluruh ummat Islam”.

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, cetakan keenam, LP3ES, 1991, hal. 34. Deliar Noer dalam footnotenya menyatakan bahwa dalam Perang Dunia I, Khalifah di Turki menyatakan perang jihad kepada musuh-musuhnya dan berseru kepada semua ummat Islam termasuk ummat Islam di Indonesia untuk memerangi musuh-musuhnya itu.

Di Jambi Raja Sri Indrawarman selaku raja Sriwijaya mengirimkan surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang baru saja diangkat menggantikan Khalifah Sulaiman (715-717 M). Khalifah Sulaiman yang masa pemerintahan nya hanya 2,5 tahun, merupakan khalifah yang memerintahkan Thariq Bin Ziyad membebaskan Spanyol. Salah satu isi suratnya berbunyi, “Dari Raja di Raja (Malik al amlak) yang adalah keturunan seribu raja, yang beristeri juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu nan harum, bumbu-bumbu wewangian, pala, dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan (Allah, red). Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Dengan setulus hati, saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga mengutus salah seorang ulama terbaiknya untuk memperkenalkan Islam kepada Raja Sriwijaya, Sri Indrawarman, seperti yang diminta olehnya. Tatkala mengetahui segala hal tentang Islam, Raja Sriwijaya ini tertarik. Hatinya tersentuh hidayah. Pada tahun 718, Sri Indrawarman akhirnya mengucap dua kalimat syahadat. Sejak itu kerajaannya disebut orang sebagai “Kerajaan Sribuza yang Islam”.

Masih banyak bukti-bukti sejarah bahwa kesultanan Islam yang ada di Nusantara semuanya ada hubungannya dan terikat kuat kepada Kekhalifahan Turki Utsmani dengan ikatan Aqidah yang sama. Kini tidak mustahil dan bukan sekedar mimpi kiranya di Nusantara ini yang dulunya bagian dari Kekhalifahan Islam berharap kedepannya menjadi pusat Kekhalifahan Islam dunia melihat dari historis negri ini dan melihat prospek jumlah ummat Islam terbesar didunia, jika mau pasti bisa, insya Allah. Wallahu a’lam (red, berbagai sumber).

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts