JANJI ALLAH PASTI DATANG

TAFSIR 0

Ust. Zulkifli Rahman Al Khateeb

Janji Allah Pasti datang“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi”. (QS. Al Fath (48) : 27-28).

             Saat kemenangan sudah didepan mata, bahkan Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam sudah bermimpi bahwa mereka pasti akan memasuki Mekkah dan ber-thowaf di sana dan ketika berita tentang mimpi Rasulullah itu tersebar dikalangan para sahabat, tidak seorang pun yang ragu-ragu bahwa tahun ini pastilah mereka akan mendatangi negeri kampung halaman yang mereka rindukan, kota Mekkah yang penuh kenangan dengan segenap kegembiraan, ber-thowaf di rumah Allah dengan aman dan damai.  Namun, ketika ternyata Quraisy menghalangi mereka dan yang terjadi malahan perjanjian Hudaibiyah yang sepintas bahwa isinya merugikan pihak kaum Muslimin, sehingga pada tahun itu mereka harus kembali pulang ke Madinah sebelum tiba di negeri Mekkah, diantara para sahabat ada yang merasa sangat kecewa bahkan ada yang merasakan sedikit keraguan dihati mereka,  hingga Umar bin Khathab radiallohu’anhu bertanya kepada Rasulullah, “Bukankah engkau telah mengatakan bahwa kita akan datang ke Tanah Suci dan thowaf di sana?” Beliau menjawab, “Benar. Namun, apakah aku sudah memastikan bahwa akan datang ke Tanah Suci pada tahun ini juga?” Umar menjawab, “Tidak.” Rasulullah melanjutkan, “Engkau akan datang dan thowaf di tanah suci.” Abu Bakar menimpali, “Janji Allah pasti akan datang.” (HR. Al Bukhari, Fathul Bari, V/390).

            Sementara perjanjian Hudaibiyah itu sendiri, isinya, “Ini adalah perjanjian damai yang telah disepakati antara Suhail bin Amru dari pihak Quraisy dan Muhammad bin Abdillah dari pihak kaum Muslimin” :

  1. Gencatan senjata diantara kedua belah pihak, sehingga semua orang merasa aman dan sebahagian tidak boleh memerangi sebagian yang lain,
  2. Barang siapa yang hendak bergabung dengan pihak Muhammad dan perjanjiannya maka dia boleh melakukannya, dan barang siapa yang ingin bergabung dengan Quraisy dan perjanjiannya maka dia boleh melakukannya. Kabilah manapun yang hendak bergabung dengan salah satu pihak, maka ia menjadi bagian dari pihak yang ia bergabung dengannya dan penyerangan yang ditujukan kepada kabilah tertentu dianggap penyerangan dengan kabilah yang berkaitan dengannya. (Saat poin ini dibacakan seorang pemuka Bani Khuza’ah langsung menyatakan bergabung dengan pihak Rasulullah, yang mana sebelumnya mereka adalah sekutu Bani Hasyim, sementara Bani Bakr saat itu juga menyatakan bergabung dengan Quraisy).
  3. Siapapun orang Quraisy yang mendatangi Muhammad tanpa izin walinya (melarikan diri), maka harus dikembalikan kepada Quraisy dan siapapun dari pihak Muhammad yang mendatangi Quraisy (melarikan diri)  maka ia tidak boleh dikembalikan padanya,
  4. Bahwa kaum Muslimin harus pulang tahun ini dan tidak boleh memasuki Mekkah, mereka hanya boleh datang tahun depan dengan senjata yang biasa dibawa musafir, yaitu pedang yang disarungkan. Mereka boleh bermukim tiga hari dan Quraisy tidak boleh menghalangi mereka dengan cara apapun.

            Dalam kondisi seperti ini, ketaatan para sahabat benar-benar teruji, sebab dalam perhitungan mereka, ketika Perang Ahzab dimana Quraisy bergabung dengan berbagai macam kabilah, mampu mereka kalahkan, apalagi dalam kondisi seperti ini, sekiranya mereka diperintahkan menyerangpun mereka sudah siap, akan tetapi justeru Rasulullah bersedia menerima perjanjian yang nampak merugikan mereka. Tidak sedikit sahabat yang menggerutu dalam luapan emosi, tetapi mereka tetap sami’na wa atho’na. Sebahagian lagi dengan tegar membesarkan hati sebahagian yang lain, seraya berkata: “Janji Allah pasti benar….. Janji Allah pasti benar…..!”.

            Dari pihak Quraisy yang menjadi saksi perjanjian ini adalah Suhail bin ‘Amr dan Mikruz bin Hafs dan dari kaum Muslimin Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Saad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Muhammad bin Salamah, Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Suhail bin ‘Amr radiallahu ta’ala ajma’in

            Karena sepintas perjanjian ini tidak adil, maka الله menjawabnya dengan firman-Nya, “Fa ‘alima maa lam ta’lamuu…” artinya: “Maka Allah mengetahui, apa yang kalian tidak ketahui..” Disinilah letak keharusan untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, meskipun pada urusan yang kita tidak mengetahuinya. Disini juga dituntut husnudzon (berbaik sangka) para sahabat terhadap pemimpinnya (Rasulullah). Dapat dibayangkan betapa gentingnya suasana saat itu, hingga seorang sahabat langsung berkata dihadapan Rasulullah, “Demi ayah dan ibuku, engkau wahai Rasulullah, demi Allah jikalau aku tidak bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah dan engkau tidak memutuskan sesuatu kecuali dengan perintah Allah dan bahwa Allah tidak akan meninggalkanmu, tidaklah kami rela dari sebahagian yang ditulis disini.” Namun betapapun genting suasananya dan betapapun ada sahabat yang merasa tidak rela dengan hasil keputusan perjanjian itu, mereka tetap dalam sami’na wa atho’na, tetap bersedia mendengar dan ta’at.

            Ada kalanya, ulil amri kita memutuskan sesuatu yang tidak mampu kita fahami hakikatnya, bukan berarti kita boleh mengabaikan atau tidak mentaatinya. Satu-satunya bahan pertimbangan adalah ‘apakah perintah itu mengandung nilai maksiat kepada Allah atau tidak?  Sebab tidak ada ketaatan pada makhluk dalam hal yang bersifat maksiat kepada Khaliq (Pencipta).

            Semakin dekat kemenangan tentunya semakin berat pula ujiannya, dan semakin nyata antara yang benar-benar beriman dan yang hanya berpura-pura, antara yang bersungguh-sungguh dan yang hanya main-main. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya, Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). “Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar. (QS. Ali Imran [3]: 179).

            Pada ayat berikutnya (28), Allah menyatakan bahwa, Rasul-Nya itu (Muhammad SAW), Dialah, Allah yang mengutusnya dengan diberi petunjuk dan dien yang haq. Artinya, selain bahwa Dia yang mengutusnya, Allah juga memberinya petunjuk apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan. Itulah yang disebut ‘Al Huda’ dan  ‘dienul haq’, bukan sekedar mengutus dan dibiarkan begitu saja.  Dalam ayat ini juga tersirat bahwa ketika yang diutus ini mengikuti petunjuk, maka ia tidak mungkin salah dan tidak mungkin kalah, bahkan ditambah lagi dengan penekanan, ‘liyuzhirahu ‘ala diini kullihi, agar Allah memenangkannya atas semua dien’ artinya pasti menang, karena Allah yang menolong dan cukuplah Allah sebagai saksi.

            Sekarang dan sampai kapanpun, ketika petunjuk Allah diikuti dengan seksama, maka Allah yang menolong rasul-Nya dahulu, Allah SWT itu juga yang akan menolong siapapun yang mengikuti petunjuk sebagaimana Rasul-Nya mengikuti petunjuk.

            Sebahagian orang sudah memprediksi bahwa abad ini adalah era kebangkitan ummat Islam dari keterpurukannya, dimana pada abad ini mulai ada orang-orang yang mengumumkan kekhalifahan dan mulai ada orang-orang yang membai’at seseorang sebagai Khalifah, dan bisa jadi akan ada beberapa Khalifah diseluruh penjuru dunia dan bisa jadi akan ada dua belas Imam (Khalifah) yang akan membai’at Imam Mahdi di depan Ka’bah, sebagaimana yang dinubuwatkan oleh Rasulullah SAW. Atau akan ada sekelompok orang berbendera hitam menggulung dari timur, menaklukan dunia. Akan ada orang-orang yang bersatu padu dan akan ada pula orang-orang yang tetap berpecah belah sebagaimana yang dinubuwatkan oleh Rasulullah. Akan ada perzinahan yang merajalela, dan akan ada pula orang-orang yang tetap menjaga diri untuk terhindar dari perzinahan. Akan ada orang yang memegang bai’at dan siap mendengar dan ta’at dan akan ada pula orang yang tidak mau berbai’at dan tidak mau mendengar dan ta’at dengan berbagai dalih dan alasan.

            Semoga kita termasuk orang-orang yang dituntun Allah untuk mengikuti petunjuk dengan benar, yang dibimbing Allah untuk siap mendengar dan ta’at terhadap yang kita sukai atau tidak sukai, yang ringan maupun yang berat, yang menguntungkan maupun yang merugikan pribadi kita dan istiqomah hingga akhir hayat kita, Aamiin! Wallahu A’lam

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!
JANJI ALLAH PASTI DATANG,5 / 5 ( 1votes )

Related Posts