JANGAN PAKSAKAN ISLAM DI SISTEM YANG BUKAN ISLAM

OPINI 0

Zulkifli Rahman Al Khateeb

Sebagai seorang seorang muslim yang taat, tentu menginginkan dan mengupayakan agar dapat menerapkan Islam dalam kehidupan pribadi dan rumah tangganya, karena hanya dengan demikian itu, kebahagiaan dunia dan akhirat dapat diraih. Sebagai komunitas muslim, tentu kita ingin menerapkan aturan Islam dalam komunitasnya, bahkan dalam masyarakat secara umum. Namun pada kenyataannya kita tidak berada dalam negri dengan pemerintahan Islam. Bagaimanakah solusi dalam menghadapi permasalahan ini? Berikut kita simak interaktif redaksi dengan Al Ustad Zulkifli Rahman Al Khateeb dalam mengupas tuntas hal ini :

Sesungguhnya kondisi yang sangat memprihatinkan, terjadi hampir di belahan dunia yang mayoritas berpenduduk Islam, jangankan untuk menerapkan Islam dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, dalam kehidupan pribadipun mereka tidak dapat menerapkannya dengan mudah. Bagaimana ustad menanggapi hal ini ?

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa negri kita ini adalah negara Demokrasi yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45, bukan negara berdasar atas agama tertentu (baik Negara Islam, Kristen, Yahudi dll). Maka jelas bahwa kewajiban negara ini adalah melaksanakan Pancasila, UUD 45 dan GBHN, bukan melaksanakan ajaran agama tertentu. Hanya saja, negara menjamin kemerdekaan setiap warganya untuk melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.

Maka kita melihat setiap komunitas ummat beragama, bebas melaksanakan ajaran agamanya dalam komunitasnya sendiri. Contoh ummat Hindu di Bali, mereka punya komunitas sendiri dan kepemimpinan sendiri dalam melaksanakan ajaran agama mereka. Kita lihat juga ummat Katholik, misalnya, mereka tidak sibuk memaksakan ajaran katholik untuk diterapkan dalam NKRI. Mereka tidak merepotkan Negara Pancasila untuk menetapkan hari besar mereka, tidak juga untuk mengurusi derma yang mereka setorkan kepada para pendeta untuk diteruskan ke struktural diatasnya dari Pastor, Uskup, Kardinal hingga ke Paus, yang kemudian mereka kelola sendiri untuk disalurkan kepada komunitasnya sendiri sesuai ajaran agama yang mereka yakini cialis per nachnahme bestellen. Mereka punya lembaga sendiri untuk mengurusi hal itu.

Semestinya ummat Islam juga harus memiliki lembaga sendiri yang independen untuk mengurusi urusan agama mereka secara Internasional yang disebut Khilafah. Islam punya sistem sendiri dalam menerapkan ajaranya yaitu sistem Khilafah yang merupakan “rumah” sendiri bagi ummat Islam. Hanya didalam “rumah” sendiri inilah ummat Islam dapat menerapkan Islam dengan mudah.

Faktor apa yang menyebabkan ummat Islam ini “lupa” atau belum mau peduli kepada sistem Islam, atau istilahnya “rumahnya sendiri”, ustad ?

Sudah terlalu lama ummat Islam tidak dipimpin oleh seorang Khalifah, yaitu sejak dibunuhnya Khalifah terakhir ummat Islam tahun 1924 di Turki dan tidak ada lagi penggantinya. Beberapa tahun setelah itu, ummat Islam di berbagai penjuru dunia kemudian mendirikan Negara-negara merdeka yang mereka sebut sebagai negara yang bersatu, berdaulat dan terbebas dari penjajahan. Termasuk negara kita yang di proklamasikan 21 tahun setelah runtuhnya Kekhalifahan kaum musimin (Khilafatul Muslimin). Ibarat anak ayam yang kehilanyan induk, ummat Islam bangsa Indonesia serasa menemukan Induk baru untuk menerapkan ajaran Islam. Mereka “lupa” bahwa ajaran Islam hanya dapat diterapkan secara leluasa di dalam sistemnya sendiri, bukan dalam sistem demokrasi.

Menurut ustadz, tidak tepat ummat Islam menuntut sistem demokrasi menjalankan ajaran Islam, bagaimana solusi seharusnya sesuai tuntunan ajaran Islam?

Memang demikianlah adanya. Kan lucu, kita berteriak menuntut penerapan ajaran Islam pada sistem yang bukan sistem Islam. Nah, solusi yang kita tawarkan kepada ummat Islam agar segera bergabung dengan Khilafatul Muslimin, menerapkan Islam dalam rumah kita sendiri. Kita bersatu dalam jama’ah kaum muslimin dan Imamnya, yaitu seorang khalifah yang kita taati sesuai ajaran Islam, kita dukung hingga menjadi besar dan kuat agar kita dapat menerapkan Islam secara kaaffah didalam “rumah kita sendiri”.

Ketika diajak bersatu di dalam “rumahnya sendiri” sebagian ummat Islam ada yang takut lantaran terkesan seolah membuat “negara di dalam negara”, Bagaimana ustad menaggapi hal ini ?

Sesungguhnya Khilafah adalah bukan negara. Khilafah adalah jama’ah yang dipimpin oleh seorang Khalifah, maka wasiat Rasulullah Shallahu alaihi wasalam, “Talzamu Jama’atal Muslimina wa Imamahum”, yang dimaksud jama’ah kaum Muslimin dan Imamnya itu adalah jamaahnya Abu Bakar As Shiddiq Radiallahu anhuma dan sahabat yang mengikutinya. Baik Rasulullah maupun Abu Bakar bukanlah kepala negara, bukan presiden dan bukan pula Raja, melainkan pemimpin Jama’ah yang disebut juga Imam. Mulai sejak jama’ahnya masih kecil ketika di Mekkah hingga menjadi besar di Madinah. Tetaplah berupa Jama’ah, tidak pernah berubah menjadi negara. Jika kita memahami hal ini secara benar, maka kita tidak perlu takut, karena memang kita tidak sedang membuat negara didalam negara.

Ada semacam kekhawatiran yang mungkin timbul di beberapa kalangan, jika persatuan Islam ini menjadi kuat dan mendominasi, apakah tidak menjadi ancamam bagi mereka. Bagaimana ustadz menjelaskan hal ini ?

Jika terjadi yang demikian itu, maka sebagaimana dahulu juga pernah terjadi, fakta sejarah membuktikan bahwa non Islam (ahlu dzimah) hidup bebas menjalankan keyakinan mereka dan dijamin dibawah sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Maka tidak heran jika ada non muslim yang menyatakan bahwa kami siap mendukung Kekhalifahan Islam jika memang benar diterapkan sesuai tuntunannya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.

Apa harapan ustad kepada ummat Islam dan kepada Kekhalifahan yang sudah di maklumatkan, melihat fenomena ummat Islam saat ini dengan banyaknya kelompok Islam seolah mereka bingung ?

Banyaknya kelompok dalam ummat Islam sekarang ini, sebenarnya tidak perlu membuat bingung, karena Rasulullah tidak memerintah kita untuk menyatukan semua firqoh, akan tetapi beliau memerintahkan untuk meninggal-kan semua firqoh. Bahkan jika tidak ada jama’ah dan tidak ada imam sekalipun kita tetap harus meninggalkan semua firqoh mesti harus menggigit akar pepohonan di hutan belantara. Apalagi sekarang sudah ada jamaah/Khilafatul Muslimin dan ada Imamnya yang jelas. Maka sudah saatnya ummat Islam segera melaksanakan wasiat Rasululllah Shallahu alaihi wasalam untuk iltizam pada jamaah kaum muslimin dan imam mereka. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:

Related Posts