JAMA’AH SEBAGAI PILAR ISLAM GLOBAL

TARBIYAH 0

Oleh: Ahmad MS

Terlepas dari sepakat atau tidaknya kita dengan wujud aksi “Bela Islam 411” atau demonstrasi kaum Muslimin menentang Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahya Purnama (Ahok) di Jakarta pada hari Jum’at, 4 November 2016 lalu, satu hal yang pasti bahwa; kaum Muslim baik awam maupun ulama sedang mengalami shock expression (ekspresi kekagetan) dengan perubahan yang telah sedemikian rupa terjadi, yakni naiknya seorang non Muslim (kafir) sebagai pemimpin bagi kaum Muslimin mayoritas, bahkan terjadi di Ibu kota Negara mereka, Indonesia. Dahulu pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah tahun 1924 di negeri ini dan banyak negeri Muslim lain di dunia masih dianggap sebuah aib dan kehinaan jika negeri mereka (meskipun sudah dengan system demokrasi) dipimpin oleh seorang non Muslim, karena jejak-jejak system Islam (Khilafah) dan syariahnya masih ada dalam benak kaum Muslimin di seluruh dunia, sehingga isyu pemimpin harus seorang Muslim masih menjadi isyu global kala itu. Ini pula barangkali yang telah menina bobokkan ummat Islam dalam waktu yang cukup lama. Namun seiring berjalannya waktu, demokrasi melalui proses liberalisasi pemikiran telah merubah cara berfikir kaum Muslimin dari mainstream Rasulullah SAW, para sahabat dan  para ulama salaf kepada pola pikir demokrasi sehingga standar loyalitas mereka melenceng sedemikian jauh.

Inilah fitnah, inilah adzab yang telah diancamkan oleh Allah SWT atas ummat ini ketika mereka tidak bersatu dibawah kepemimpinan Islam sebagai pilar kesatuan global, maka kini ancaman itu menjadi nyata.  Kenapa terjadi shock?, karena kelalaian kita semua atas kewajiban menegakkan kalimah Allah, atas kewajiban berjama’ah, atas kewajiban berkhilafah, sehingga aturan main kufur demokrasi yang telah diikuti dengan harapan bisa merubah keadaan menjadi Islami, justeru semakin menjerumuskan kaum Muslimin ke dalam jurang kenistaan. Apa yang tidak boleh menurut Islam menjadi boleh dan apa yang boleh menjadi tidak boleh menurut undang-undang di banyak negara demokrasi, termasuk Indonesia. Anehnya perubahan hukum tersebut justeru didukung atau setidaknya didiamkan oleh sebagian ulama Islam yang dihormati dan dipatuhi umatnya, sehingga mirip dengan para Rahib Nashrani yang diikuti oleh kaumnya sebagaimana digambarkan oleh Allah SWT dalam Al Quran. Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Robb-Robb selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam;” (QS. At- Taubah: 31)

Sahabat Adi bin Hatim RA yang masuk Islam pada tahun ke-9 hijriyah, setelah datang menghadap Rasulullah SAW, sementara di lehernya masih tergantung kalung salib, mendapati Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Buanglah berhala ini!” Maka iapun membuangnya. Dia (Adi bin Hatim) mengisahkan :”Ketika itu aku mendengar Rasulullah SAW membacakan Surat   At  Taubah ayat 31. Maka aku (Adi bin Hatim) berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (orang-orang Nashrani itu) tidaklah menyembah para pendetanya!” Beliau SAW bersabda, “Iya memang benar, akan tetapi bukankah mereka (para Rahib/ Pendeta itu) mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram untuk para pengikutnya, kemudian para pengikutnya mengikuti mereka?, itulah bentuk ibadah (penyembahan) mereka kepada para pendeta mereka” (HR.Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Jarir dari jalur Adi bin Hatim).

Begitulah keadaan ummat Islam hari ini, dalam kebingungan yang sangat, terkait dengan sikap para tokoh mereka, baik yang notabene berstatus ulama, politisi maupun akademisi yang justeru mendukung system bathil dan hukum jahiliyyah. Sementara para pengikutnya dengan penuh semangat dan ‘prasangka baik’ mengikuti mereka dalam rangka berjuang meninggikan kalimah Allah SWT. Mungkinkah akan ada kemenangan dan capaian yang baik dengan perihal semacam ini?, alangkah terang benderangnya masalah ini bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah SWT. Semoga kita termasuk di dalamnya, Aamiin!.

Bagi orang-orang beriman sesungguhnya, kondisi aman maupun carut marutnya kehidupan baik atas makar orang-orang kafir maupun atas kelalaian orang-orang Islam sendiri adalah merupakan ujian, sehingga Allah SWT mengetahui seperti apa sikap kita menghadapi sebuah kenyataan. Dan sesungghnya diatas semua itu ada makar Allah yang sedang berjalan. Makar adalah rencana ‘buruk’ tersembunyi yang akan ditimpakan kepada seseorang yang menjadi objek tanpa sepengetahuannya. Makar Allah akan dijalankan terhadap manusia tanpa mereka sadari, sebagai realisasi terhadap kekuasaan-Nya di alam raya dan kesempurnaan hikmah-Nya. Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Al-Fawaid (hal. 160) berkata: Adapun makar yang Allah sifatkan pada diri-Nya adalah balasan dari-nya kepada orang-orang yang berbuat jahat kepada para wali dan utusan-Nya, lalu Allah membalas makar mereka yang buruk dengan makar-Nya yang bagus. Sehingga makar mereka adalah seburuk-buruknya makar, sedangkan makar dari Allah adalah sebagus-bagusnya makar, karena ia bentuk keadilan dan balasan. “Orang-orang kafir itu membuat maker (tipu daya), dan Allah membalas makar mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas makar”.  (QS. Ali Imran [3]:54).

Karenanya, tiada daya upaya dan kekuatan melainkan atas pertolongan Allah. Saat ini secara fisik orang-orang kafir tampak begitu kuat dan perkasa, secara militer mereka digdaya, secara politik mereka diatas angin, diplomasi mereka masih dominan dalam percaturan politik global, sehingga kaum Muslimin diombang-ambingkan oleh mereka dengan berbagai strategi atau manuver dan adu domba. Lantas apakah harapan kita? Jawabannya adalah kita punya Allah, oleh Allah kita diberikan petunjuk berupa  Al Quran dan oleh-Nya pula kita diutuskan seorang Nabi akhir zaman dengan sunnahnya yang agung untuk kita ikuti. Di zaman Nabi bukannya tidak ada makar dari orang-orang kafir, di zaman sahabat bukannya sepi dari manuver musuh-musuh Allah, namun atas pertolongan Allah SWT semua itu bisa mereka hadapi dengan sangat baik dan bisa terlampaui dengan elegan bahkan justeru semakin menunjukan keunggulan Islam dan kaum Muslimin. Kuncinya hanya satu, mereka begitu konsisten dengan ajaran Allah SWT dan mereka senantiasa terpimpin dibawah seorang Nabi dimasa kenabian dan dibawah seorang Khalifah di zaman kekhalifahan. Mereka senantiasa mentaati Rasulullah dan para Khalifah setelah beliau SAW sehingga mereka bisa tampil menepis berbagai ancaman dan makar orang-orang kafir dalam barisan mereka yang rapih sehingga mereka seperti yang digambarkan oleh Allah SWT sebagai Shoffan Ka Annahum Bunyaanun Marshush, seolah seperti bangunan yang tersusun kokoh (QS. Ash Shaf [61] ayat 4). Sehingga makar Allah atas orang-orang kafir untuk menghancurkan barisan kekafiran mereka menjadi nyata, sebanding dengan kwalitas ketaatan umat Islam atas rambu-rambu-Nya.

Kalau itu, ketaatan orang-orang mukmin kepada Rabb-nya, Allah SWT, kepada Rasulullah SAW dan Ulil Amri diantara mereka (QS. An Nisa [4] ayat 59) di barengi dengan rasa takut kepada Allah dan rencana tersembunyi-Nya; kalau ternyata ada syarat amal yang masih kurang, kalau ternyata ada maksiyat yang mengiringi, sehingga tidak akan diterima oleh Allah. Allah SAW sebutkan tentang mereka, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Robb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 60-61)

‘Aisyah Radliyallaahu ‘Anha berkata, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tentang ayat ini, apakah yang dimaksud adalah mereka orang-orang yang minum khamer, pezina, dan pencuri? Beliau  menjawab, “Tidak, wahai putri Ash Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menunaikan shalat dan shadaqah namun mereka takut kalau amalnya tidak diterima.” (HR. al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Maka problematika kaum Muslimin baik lokal maupun global, tak dapat diselesaikan dengan semata mengandalkan kemampuan politik semata, atau kejeniusan seorang diplomat atau bahkan dengan pengerahan massa dalam jumlah besar sekalipun. Selama itu semua berlangsung dalam alur demokrasi dan mengikuti pola kerja demokrasi dengan meninggalkan kewajiban berjama’ah (Khilafah), maka semua hanya akan menjadi andil bagi suksesnya proses demokratisasi dalam sebuah Negara yang berdampak pada terabaikannya kebenaran dan system Islam yang ingin ditegakkan. Apakah sudah tidak ada lagi rasa takut dalam hati ummat Islam saat ini kalau-kalau amal mereka dalam perjuangan menegakkan kalimah Allah justeru tidak bernilai karena mereka menyelisihi cara-cara Nabi mereka dalam menegakkan Islam?. Semoga Allah SWT merahmati kita semua dan membimbing kita untuk tetap dalam alur kebenaran dalam menegakkan Islam dan system Islam, yakni Khilafah dengan methode kenabian yang akan berfungsi sebagai pilar yang kokoh bagi tegaknya Islam dan kehormatan kaum Muislimin global, Aamiin!

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts