IZZAH ISLAM TINGGI HANYA DI SISTEM KHILAFAH

TARBIYAH 0

Tubagus Herzamli

Kemuliaan (Izzah) Islam hanya akan tinggi ketika berada di dalam sistem Islam itu sendiri. Dulu Izzah Islam tinggi di dalam sistem Kenabian dan setelahnya Izzah Islam tinggi ketika berada didalam sistem Kekhalifahan, ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Saat ini, kita sangat miris dan prihatin dengan kenyataan ummat Islam seolah tidak memiliki Izzah, padahal jumlah mereka mayoritas tetapi seperti buih di lautan. Jumlah kita banyak tetapi seperti hidangan makanan yang siap di santap, lantaran meninggalkan sistem Islam.

Sebagai bahan renungan, sebuah Hadist yang diriwayatkan dari Tsauban Radiallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, ummat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi hidangan di piring dan mengajak orang lain menyantap bersama”. Maka para sahabat pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?”. Sabda Nabi : “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut”. Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam, “Kerana ada dua penyakit, yaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.”Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn?” Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Cinta akan dunia dan takut akan kematian”.

Prediksi Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam didalam hadits di atas ternyata terjadi dewasa ini dan membuat prihatin dengan keadaan ummat Islam saat ini. Bagaimana tidak, satu orang kafir yang telah berani melecehkan Islam, tetapi ummat Islam tidak bisa berbuat apa-apa, mereka lemah hanya “Unjuk rasa” yang dilakukan oleh jutaan ummat Islam kepada penguasa dan celakanya penguasanya adalah penguasa yang meninggalkan ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Lucunya lagi mereka rela dan sepakat menghukum si Kafir tadi dengan hukum buatan manusia dan meninggalkan hukum Allah, artinya mereka sepakat untuk masuk Neraka karena rela walau sedetikpun berhukum pada hukum manusia dan meninggalkan hukum Allah, (lihat QS. Al Maidah ayat 44, 45, 47 dan 50), naudzubillahi mindzalik !

Ini terjadi di belahan dunia yang mayoritas berpenduduk Islam, bagaimana ketika ada orang, baik secara pribadi dan kelompok menghina Nabi, menghina Al Qur’an hanya “Unjuk Rasa” yang dilakukan oleh ummat Islam. Bedakan dengan zaman Islam yang gemilang dengan sistem Kekhalifahan nya.

MUJAHIDIN HARUSNYA 1 BANDING 10

Dalam kancah sejarah Jihad Qital (perang) yang pernah terjadi, bahwa ummat Islam tidak pernah pasukannya lebih banyak jumlahnya dari pasukan orang kafir, pasukan ummat Islam selalu lebih sedikit jumlahnya dibanding jumlah pasukan orang-orang kafir, dan senantiasa ummat Islam dimenangkan oleh Allah Subahanahu wata’ala, karena ummat Islam berada di jalan yang benar, dibawah kepemimpinan yang benar, berada di sistem yang benar, Iqomatuddien dengan cara-cara yang benar, cara yang Allah ridha bukan cara selainnya serta mereka mencintai kematian, yakni rindu akan Syahid. Perang pertama ummat Islam, yakni Perang Badar, 313 orang muslim melawan 3.000 orang kafir Quraisy dan Allah menangkan ummat Islam. Perang Mu’tah, jumlah pasukan muslim 3.000 pasukan melawan 200.000 pasukan orang kafir dan Allah menangkan pasukan Muslim dan banyak fakta lainnya.

Kalau dihitung secara matematis seharusnya satu orang mukmin yang mujahid, istiqamah dan berada di atas kebenaran seharusnya dapat mengalahkan 10 musuh-musuh Allah. Allah Subahanahu wata’ala berfirman, “Hai Nabi, korbankanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya meraka dapat mengalahkan seribu orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti…”. (QS. Al Anfal (8) : 65 – 66).

Simak dua kisah ini untuk sama-sama kita renungkan. Kisah pertama terjadi pada masa Khalifah /Amirul Mukminin al-Mu’tashim Billah, Khalifah ke-delapan Bani Abbasiyah. Kota Amurriyah yang dikuasai oleh Romawi saat itu berhasil ditaklukkan oleh Khalifah al-Mu’tashim. Pada penyerangan itu sekitar 3.000 tentara Romawi tewas terbunuh dan sekitar 30.000 menjadi tawanan. Dan di antara faktor yang mendorong penaklukan kota ini adalah karena adanya seorang wanita dari sebuah kota pesisir yang ditawan di sana. Ia berseru, “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashim!”. Setelah informasi itu terdengar oleh Khalifah, ia pun segera menunggang kudanya dan membawa bala tentara untuk menyelamatkan wanita tersebut plus menaklukkan kota tempat wanita itu ditawan. Setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut al-Mu’tashim mengatakan, “Kupenuhi seruanmu, wahai ukhti !” (sumber :hidayatullah.com).

Kisah kedua, dikisahkan tentang Khalifah al-Hajib al-Manshur, salah seorang pemimpin Amiriyah di Kekhalifahan Andalusia yang menggerakkan pasukan utuh dan lengkap untuk menyelamatkan tiga wanita Muslimah yang menjadi tawanan di kerajaan Navarre. Saat itu kerajaan Navarre terikat perjanjian dengan al-Hajib al-Mansur yang salah satu perjanjiannya adalah pihak kerajaan Navarre tidak dibenarkan menawan seorang kaum muslimin atau menahan mereka. Kisah ini bermula ketika seorang utusan Kekhalifahan pergi menuju kerajaan Navarre. Saat sang utusan berjalan berkeliling dengan raja Navarre, ia menemukan tiga orang wanita Muslimah di dalam salah satu gereja mereka. Utusan ini pun akhirnya mengetahui bahwasanya wanita Muslimah tersebut ditawan di dalam gereja tersebut. Di sini, utusan Kekhalifahan marah besar dan segera kembali menemui Khalifah dan menyampaikan kasus tersebut. Maka Khalifah al-Manshur kemudian mengirim kan pasukan besar untuk menyelamatkan wanita tersebut. Dan betapa kagetnya raja Navarre ketika melihat pasukan yang siap untuk berperang. “Kami tidak tahu untuk apa kalian datang, padahal antara kami dengan kalian terikat perjanjian untuk tidak saling menyerang. Lagi pula kami sudah membayar jizyah..!”. Maka dengan lantang, pasukan kaum Muslimin pun mengatakan bahwasanya mereka, pihak kerajaan Navarre telah menawan beberapa wanita Muslimah. Pihak kerajaan menjawab, “Kami sama sekali tidak mengetahui hal tersebut”. Maka, setelah diperlihatkan tiga Muslimah yang ditawan, sang raja Navarre kemudian mengirimkan surat permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Khalifah al-Manshur dan menyampaikan bahwa ia akan menghancurkan gereja tersebut. Pasukan Kekhalifahan pun kembali ke negerinya dengan membawa ketiga Muslimah tersebut. (sumber :hidayatullah.com).

Subahanallah, sungguh Izzatul Islam wal musimin dirasakan secara sempurna didalam sistem Islam yakni Kekhalifahan. Jangankan kehormatan dan kemuliaan Islam (Allah, Rasul, Al Qur’an dan lain sebagainya) yang sempat di hina, bahkan harga diri seorang muslimah pun di bela sampai titik darah penghabisan dan membuat gentar musuh-musuh Islam. Allahu Akbar !

ISLAM TINGGI KETIKA BERADA DI SISTEM YANG BENAR

Ketika ummat Islam kembali ke jalur komando yang benar yakni sistem kepemimpinan Islam yang benar yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya maka saat itulah Allah akan menolongnya. Tetapi ketika ummat Islam mencampur adukan penegakkan dienul Islam (iqomatuddien) dengan sistem kepemimpinan yang batil, seperti Islam dicampur dengan Demokrasi, Islam di campur dengan Kapitalisme, Islam dicampur dengan komunisme, Islam dicampur dengan Liberalisme dan lain sebagainya maka tunggulah Azab Allah akan disegerakan, bukan pertolongan Allah yang akan datang, (QS. Al Baqarah (2) : 42).

Ketika ummat Islam berada di jalur komando yang benar maka pasti akan Allah menangkan. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka Allah akan turunkan bala tentara malaikat kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat : 30). Allah berfirman, “Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Dien yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua Dien dan cukuplah Allah sebagai saksi”. (QS. Al fath : 28).

Ummat Islam harus paham sistem kepemimpinannya dan tidak boleh mencampur adukan antara sistem kepemimpinan yang Haq dengan sistem kepemimpinan yang bathil. Ummat Islam didalam kehidupannya senantiasa terstruktural secara rapi dan terpimpin, belum ada sejarahnya ummat Islam ini tidak terpimpin. Ummat Islam tidak terpimpin terjadi ketika kekhalifahan Utsmaniyah terakhir tahun 1924 di Turki runtuh akibat konspirasi Yahudi melalui tangan Mustafa Kemal At Taturk hingga tahun 1997 M bahkan sebagiannya hingga saat ini, sejak itu ummat Islam seolah bingung dan tidak mengerti kepemimpinannya.

Sistem kepemimpinan didalam Islam sebagaimana Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Senantiasa Bani Israil dipimpin oleh seorang nabi, setiap kali seorang nabi wafat, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada lagi nabi sesudah aku (Rasulullah). Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka bahkan berjumlah banyak…”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibn Majah). Islam senantiasa terpimpin, zaman dulu di pimpin oleh para Nabi dengan sistem Kenabian (An Nubuwah) dan ini hanya sampai Nabi Muhammad r, dan menurut hadits di atas setelah nya ummat Islam di pimpin oleh Khalifah /Amirul Mukminin dengan sistem Kekhalifahan hingga yaumil qiyamah dan tidak boleh digantikan dengan sistem-sistem yang selainnya.

STRATEGI IQOMATUDDIEN YANG BENAR

Nabi Shallahu alaihi wasalam bersabda,

وَأَنَا آمُرُكُم بِخَمْسٍ،الله أَمَرَنِيَ بِهِنَّ، اَلْجَمَاعَةُ وَالسَّمْعُ ُ وَالطَّاعَةُ وَالْهِجْرَةُ وَاْلجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.

“Dan aku menyuruh kalian dengan lima perkara yang Allah telah menyuruhku dengan lima perkara itu, yaitu berjama’ah (bersatu), mendengar dan taat, hijrah dan jihad fi sabilillah.” (HR. Ahmad dari Al Harits Al Asy’ari dan dishahihkan oleh Al Albani). Inilah yang dikenal dengan rukun penegakkan Islam (iqomatuddien) atau sering kita dengar dengan strategi dasar penegakkan Dienul Islam (Iqomatuddien). Sejalan dengan perintah Allah didalam QS. As Syuraa (42) : 13, “Tegakkan Dien dan Janganlah kamu berpeceh belah didalamnya”.

Berjama’ah (bersatu) didalam sistem Islam yakni sistem Kekhalifahan, mendengar dan Tha’at kepada Ulil Amri (dulu Nabi dan setelahnya adalah Khalifah /Amirul Mukminin), Hijrah ke tempat yang mayoritas warganya setuju dengan syari’at Islam dan berjihad fi sabilillah yakni ketika hijrah ke tempat yang diterima syari’at Islam maka musuh-musuh Islam tidak akan senang dan sunatullahnya pasti akan memerangi, maka disinilah kita mempertahankannya dengan Jihad fi Sabilillah yang di pimpin oleh Khalifah /Amirul Mukimin tentunya. Sunatullah ini telah terjadi di zaman nabi dan para sahabat dan pasti akan berulang hingga Allah menangkan Islam dan Islam tegak secara kaffah (futuh).

Semoga dengan penjelasan ini ummat Islam menyadari dan segera mengambil sikap, harus kemanakah wala’ (loyalitas) nya di alamatkan. Di dunia ini terbentang dua pilihan, apakah kita akan berjuang di jalan Allah (Hizbullah) dan Allah akan balas dengan kenikmatan Surga ataukah sebaliknya berjuang di jalan thagut (Hizbusyaithan / Sabilit Thagut) dan pasti kesengsaraan Neraka yang akan di dapatkan (QS. An Nisa : 76), Ini pilihan kita !

Ketika ummat Islam sudah sadar harus kemanakah wala’ nya dialamatkan dan segera meninggalkan sistem batil (sistem thagut) maka pasti Allah akan mendzahirkan Al Haq dan melenyapkan kebatilan (sistem batil) sebagaimana Allah berfirman,

Dan Katakanlah, “Yang benar (Al Haq) telah datang dan yang batil telah lenyap”, sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (QS. Al israa (17) : 81).

Renungkanlah ! Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:

Related Posts