IRFAN S. AWWAS, MENEGAKKAN KEKHALIFAHAN ITU TIDAK WAJIB ?

              “Mentaati Allah, Rasul dan Ulil Amri adalah suatu kewajiban yang mutlak bagi kaum muslimin sebagaimana Allah berfirman didalam QS. An Nisa ayat 59. Dan bersatu didalam Al Jama’ah /Al Khilafah dalam rangka mewujudkan kepemimpinan Islam ini demi melaksanakan syari’at  Islam secara kaaffah juga sebuah kewajiban yang tidak boleh ditawar-tawar lagi. Karena berpecah belah haram secara mutlak dan bersatu didalam satu kepemimpinan wajib secara mutlak sebagaimana dijelaskan oleh Allah didalam banyak ayat-ayat Nya (QS As Syura : 13, QS. Ali Imran : 103, QS. Ar Rum : 31-32 dan lainnya) dan telah dijelaskan didalam banyak hadits sahih”. Demikian pemaparan Pimpinan Redaksi majalah al-khilafah, Ust. Mohammad Mukhliansyah kepada Ust. Irfan S Awwas sebagai ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia, ketika bersilaturahim ke rumah beliau di Jogjakarta pada Senin 09 Rabi’ul Awwal 1437 H.

            Namun pendapat berbeda disampaikan oleh Ust. Irfan, dia mengatakan “Kepemimpinan Islam dalam konteks Kekhalifahan itu bukanlah sesuatu hal yang wajib, namun kepemimpinan itu sesuatu yang manusiawi atau yang dibutuhkan oleh manusia, karena orang kafir juga mempunyai kepemimpinan yang dalam kaidah fiqih disebut “jibillah”. Ada atau tidak adanya Khilafah, tidak boleh menghalangi tegaknya syari’at Islam. Adanya Khilafah untuk menegakan syari’at, maka kalau ada Khilafah tetapi tidak dapat menegakkan syari’at, sama saja dengan kepemimpinan jahiliyyah”.

            Kembali menurutnya “Kepemimpinan Islam tidak harus bernama Khilafah boleh apa saja, bisa kerajaan, bisa kesultanan dan lain-lain yang penting syari’at dapat ditegakkan. Dan telah kita lihat fakta sejarah ada kerajaan Islam, kesultanan dan lainnya. Ini menunjukan bahwa kalau “Khilafah” itu wajib maka nama dan tata caranya harus sesuai dengan yang kita ikuti”. Inilah bukti bahwa kekhalifahan itu tidak wajib, tetapi tidak wajib bukan berarti tidak penting, tetap saja kepemimpinan itu kita butuhkan. Kalau wajib, maka ketiadaan seorang khalifah berarti akan membuat ummat Islam ini semua berdosa, maka menurut saya ini tidak tepat”.

            “Bersatu itu sesungguhnya ditandai dengan satu kepemimpinan, kalau lebih dari satu maka namanya bukan bersatu. Nabi Shalallahu alaihi wasallam sebagai pemimpin ummat Islam yang satu ketika itu dengan sistem Nubuwah (kenabian) dan yang tidak berada di bawah kepemimpinan Nabi Shalallahu alaihi wasallam maka mereka bukan Islam, begitu juga Khalifah Abu Bakar Radiallahu anhuma, Umar Radiallahu anhuma, Utsman Radiallahu anhuma, Ali Radiallahu anhuma dan seterusnya dengan sistem Khilafahnya”. Bagaimana kita bisa memahami pendapat antum yang mengatakan sistem dan kepemimpinan Islam itu tidak wajib, boleh apa saja asal tegak syari’at”. Bagaimana antum menjelaskan hal ini? tanya pimpinan redaksi.

            “Zaman sekarang ini adalah zaman dimana ketiadaan seorang Khalifah /Amirul Mukminin yang memimpin seluruh ummat Islam didunia. Maka salah satu kelompok yang mempunyai pemimpin tidak boleh mengklaim bahwa hanya kepemimpinannyalah yang paling benar. Satu lagi, kalaulah memang ada satu dari kelompok itu yang benar maka batallah kepemimpinan yang lainnya karena hadits nya kalau ada dua khalifah maka bunuhlah salah satunya, maka nantinya akan saling membunuh Khalifah”. terang Ust. Irfan.

            “Taat kepada Ulil Amri merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya (QS. An Nisa : 59). Didalam hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “setelah aku tidak ada lagi nabi, maka akan ada Khalifah bahkan berjumlah banyak, sahabat bertanya apa yang harus kami lakukan ya Rasulullah? Rasul menjawab “tepatilah bai’at yang awwal”… (HR Muslim). Sistem kekhalifahan terakhir berpusat di Turki pada tahun 1924 M telah runtuh, saat ini masa kekosongan kepemimpinan ummat Islam. Sesuai dengan hadits diatas maka apa yang harus kita lakukan, bahwa setelah Kenabian akan terjadi Kekhalifahan dan kita tidak mengenal sistem selainnya? Tanya Ust. Mukhliansyah.

            Menurut ustad yang tinggal di Jogja ini, “Munculnya Khilafah itu menurut Rasulullah adalah “Khilafah ‘ala minhajiin Nubuwah”, kita perlu mencari kriteria seperti apakah Khilafah yang sesuai petunjuk Nabi itu. Maka kita harus mengikuti persis sama seperti Khilafah itu, kalau tidak persis berarti tidak benar ! Dunia saat ini telah menjadi beberapa negara, ada Turki, Saudi Arabia, Yaman, Iraq, dan lain-lain termasuk Indonesia yang notabenenya adalah negara Islam atau yang berpenduduk mayoritas muslim, seharusnya mereka menegakkan syari’at dan nanti para pemimpin-pemimpin muslim itu berkumpul membentuk kekhalifahan dan mengangkat seorang Khalifah. Tapi kalau membentuk kekhalifahan secara parsial kayak organisasi-organisasi Islam, ya kacau, keinginan kita itu adalah menegakkan syari’at dilembaga negara”.

            Lalu, bagaimana usaha kita agar kekhalifahan Islam itu bisa tegak sehingga akhirnya mampu memberlakukan syari’at Islam, khsususnya di Indonesia ini, kembali pertanyaan Pimred kepada Ust. Irfan. Yang dijawab, “Kita berupaya mengadakan revolusi konsepsi kenegaraan di Indonesia dan dari MMI sedang membentuk tim untuk itu. Atau kita melakukan revolusi fisik (jihad fi sabilillah)”.

            Demikian perbincangan singkat dengan Ust. Irfan S Awwas, semoga ada manfaatnya, aamin.

          Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku perintahkan kepada kamu sekalian (muslimin) lima perkara, sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu, berjama’ah, mendengar, ta’at, hijrah dan jihad fi sabilillah. Barangsiapa yang keluar dari Al Jama’ah sekedar sejengkal, maka sungguh terlepas ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali bertaubat. Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan Jahiliyyah, maka ia termasuk golongan orang yang bertekuk lutut dalam Jahannam.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, jika ia shaum dan shalat?” Rasul bersabda, “Sekalipun ia shaum dan shalat dan mengaku dirinya seorang muslim!…  (HR.Ahmad bin Hambal dari Haris Al-Asy’ari, Musnad Ahmad:IV/202, At-Tirmidzi Sunan At-Tirmidzi).

Facebook Comments
Tags:

Related Posts