HIDUP ITU IBADAH, INI YANG MEMBEDAKAN SEORANG MUKMIN

Ahmad MS

Seluruh manusia aktifitasnya dalam penghidupan hampir sama saja, orang kafir bekerja orang beriman bekerja, orang kafir makan orang beriman makan, namun bedanya pada nilai iman dan ibadahnya. Maka kita sebagai orang beriman harus punya nilai ibadah dalam kehidupannya dalam berbagai sendi.

Dasar semua perbedaan adalah syahadatain “Lailaha Ilallah” sebagai pengesahan iman, syahadatain dalam pandangan orang Arab dahulu begitu besar efeknya, baik yang menerima maupun yang menolaknya. Hal ini disebabkan karena orang Arab paham betul bahasanya syahadatain karena merupakan bahasa mereka.

Dalam keseharian kita nilai ibadah sangat penting, agar amal tidak sia-sia, maka penting ingat Allah (dzikrullah) dalam semua amal kebaikan, sehingga senantiasa ada unsur Allah di dalam hati kita dalam setiap kehidupan.

Dalam berhukum, saat ini kaum Muslimin meninggalkan hukum Allah, sementara mereka shalat mengucapkan takbir Allahu Akbar mengakbarkan Allah, sehingga shalat dan takbirnya bernilai bohong karena kaum muslimin memilih hukum jahiliyyah. Padahal secara tegas Allah berfirman :

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS.Al Maidah (5) : 50).

Sebagian ummat Islam baik yang awam bahkan sampai tingkat ulama yang meninggalkan hukum Allah, banyak sekali penyebabnya, namun tidak jauh dari takutnya akan kematian dan cintanya kepada dunia yang dalam hadits dikatakan oleh Rasulullah SAW sebagai penyakit “wahn”. Takut kurang makan, takut kurang makmur dan lain-lain. Sayangnya setelah kita mati nanti hanya ada dua tempat tempat kita pulang diakhirat nanti, Kalau tidak Surga yang penuh dengan kenikmatan dan kemuliaan atau Neraka yang penuh penderitaan, kesengsaraan dan kenistaan, di saat itu kita baru sadar, musibah besarlah bagi kita.

Yang pasti, bagaimana mungkin kita bisa merasa bisa masuk Surga dan bebas dari Neraka kalau kita meninggalkan hukum Allah. Allah swt tegaskan didalam ayat Nya :

“.. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS. Al Maidah (5) : 44).

“… Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (QS. Al Maidah (5) : 45).

“… Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al Maidah (5) : 47).

Dari ketiga ayat tersebut ada tiga status bagi manusia yang menolak syari’at dan hukum Allah, yakni : Kafir, Dzalim dan Fasik. Dan kondisi dari tiga status manusia ini tempatnya adalah di Neraka, Naudzu billaahimmin dzaalik ! Dan kemudian di tegaskan oleh Allah SWT dengan ancaman dan pertanyaan kepada Manusia di dalam ayat Nya di atas, QS. Al Maidah : 50.

Maka untuk mewujudkan agar syari’at dan Hukum Allah dapat berlaku di dunia ini yang merupakan Ciptaan Allah, maka butuh sistem dan wadah Bersatu. Karena hanya dengan bersatulah ummat Islam punya kemampuan dan kekuatan untuk dapat memberlakukan syari’at dan hukum Allah secara kaffah (paripurna). Sebagaimana Allah SWT berfirman,

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang Dien, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah Dien (agama) dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”. Amat berat bagi orang-orang musyrik Dien yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (Dien)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (QS. As Syura (42) : 13).

Dalam rangka itu, butuh perjuangan dengan segenap keyakinan tanpa ragu, dengan berharap rahmat, balasan dan ridha Allah semata. Wallahu a’lam. (Kutipan tausiyyah Khalifah : Masjid al Jihad, Plampang 1438 H).

 

Facebook Comments
Tags:

Related Posts