HADAPI REALITA DENGAN STANDAR RIDHA ALLAH

OPINI, TARBIYAH 0

Al Ustadz Zulkifli Rahman Al Khateeb

Peraturan yang dibuat oleh pihak yang berkewenangan dan baru di sahkan, secara langsung menyatakan akan membubarkan ormas yang bertentangan dengan aturan bersama yang dibuat dan disepakati di negri ini, walaupun aturan bersama ini justru bertentangan dengan aturan Allah Subahanahu wata’ala. Ummat Islam pun heboh bahkan ada yang turun ke jalan melakukan demo untuk menolak Peraturan tersebut, seolah hal ini merupakan musibah besar bagi ummat Islam di negri ini.

Untuk mengetahui bagaimana sikap dari Khilafatul Muslimin terkait realita yang terjadi baru-baru ini, redaksi Majalah Al-Khilafah meminta penjelasan Ustadz Zulkifli Rahman Al-Khateeb selaku Amir Daulah Khilafatul Muslimin Indonesia Bagian Timur, berikut kutipannya,

Assalamu ‘alaikum ustadz, apa kabarnya dan saat ini sedang aktifitas apa?

Wa’alaikumus salam, alhamdulillaah kabar baik. Setelah sibuk dengan rutinitas menghadapi Ramadhan dan Syawwal tahun 1438H saat ini kami mulai disibukkan dengan rencana kegiatan bulan Muharram tahun 1439H nanti. Mohon do’anya, semoga semua aktifitas kita sukses dan bernilai ibadah, Aamiin!

Seperti yang di paparkan di atas, bagaimana tanggapan ustadz tentang masalah yang sedang terjadi di negeri kita ini?

Allah menciptakan manusia di muka bumi ini, pada dasarnya mempunyai dua fungsi utama, fungsi ibadah dan fungsi khilafah. Fungsi ibadah artinya, bahwa semua aktifitas apapun yang kita lakukan harus kita upayakan bernilai ibadah dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melakukan atau mengurusi hal apapun yang tidak bernilai ibadah. Fungsi khilafah maksudnya bahwa kita hidup sebagai khalifah Allah di muka bumi berkewajiban melaksanakan dan mengawal perintah Allah, perintah Rasulullaah dan ulil amri kita sebagai bentuk ketaatan kepada ketiga unsur tersebut. Jika kita disibukkan oleh hal lain di luar dari kedua fungsi tersebut, maka tentu kita akan menjadi orang yang paling merugi, meskipun kadangkala kita telah merasa berbuat yang sebaik-baiknya. Allah Subahanahu wata’ala berfirman:

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, Maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. Al Kahfi: 103-106).

Jadi, jelas tugas kita adalah hanya melaksanakan hal yang menyangkut ibadah dan khilafah saja.

Tapi bagaimanapun ustadz, realitas yang sedang terjadi di negeri kita sedikit tidaknya pasti akan berpengaruh terhadap jalannya fungsi ibadah dan khilafah kita. Bagaimana cara kita menyikapi realitas yang ada ini secara proporsional?

Ketika Allah Subahanahu wata’ala menciptakan Adam Alaihisalam, maka Allah juga menciptakan syaithon sebagai musuhnya. Allah tidak pernah memerintahkan Nabi Adam Alaihisalam untuk melawan syaithon tetapi Allah memerin-tahkan Adam Alaihisalam untuk berlindung kepada Allah dari godaannya. Demikian pula kita sebagai anak cucu Adam, kita hanya diberi tahu bahwa syaithon itu adalah musuhmu dan kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari semua gangguan syaithon sebagaimana firman Allah Subahanahu wata’ala.

Dan Katakanlah: “Ya Rabb-ku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau Ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS. Al Mu’minun: 97-98).

Maka, sepatutnya kita segera berlindung kepada Allah dari semua gangguan syaithon, baik yang berupa syaiton Jin maupun manusia, dengan cara bersatu padu, berkumpul bersama, menguatkan ikatan persaudaraan, merapikan barisan dan tunduk patuh hanya kepada Allah, agar kita layak untuk mendapat perlindungan-Nya.

Baiklah ustadz, berarti kita wajib bersatu, lantas bagaimana cara kita merealisasikan kewajiban tersebut, apakah cukup dengan sekedar berkumpul insidentil dan reaktif karena satu kasus tertentu saja?

Setiap perintah Allah yang diturunkan melalui Rasul-Nya, pasti ada petunjuk cara melaksanakannya. Sedemikian sempurnanya agama Islam ini, sampai perintah makan, minum, berrumah tangga, bertetangga, bermasyarakat semua ada tata caranya. Adalah mustahil jika perintah yang sangat penting ini (perintah bersatu) tidak diatur tata caranya dalam Islam, sehingga kita merasa cukup bersatu dengan cara yang kita pikir sendiri-sendiri. Jika kita kaji lebih lanjut, ternyata beratus-ratus tahun ummat ini bersatu dibawah pimpinan seorang Khalifah. Tidak hanya bersifat insidentil atau temporer tetapi persatuan yang bersifat mutlak dan berkesinambungan dengan ikatan yang disebut Al ‘Urwatul Wutsqo, yaitu baiat yang mengikat di leher tiap pribadi Muslim. Tanpa ikatan baiat itu, Rasulullaah r mensinyalir sebagai suatu kebodohan, apalagi sampai mati tanpa ikatan baiat (mati jahiliyah).

Sebahagian kalangan beranggapan bahwa,  sistem Khilafah sudah tidak relevan lagi dengan   kondisi zaman sekarang ini, bagaimana cara kita menjelaskan tetap relevannya sistem Islam untuk semua kondisi dan semua zaman?

Jika kita membeli mobil buatan Jepang, yang disertai petunjuk cara perawatan dan operasionalnya (manual book), kemudian kita katakan bahwa, buku manual yang dibuat oleh Jepang ini sudah tidak relevan, maka sungguh suatu hal yang sangat lucu. Sama lucunya dengan orang yang mengatakan bahwa, buku petunjuk yang diturunkan oleh Zat yang Maha Menciptakan bumi ini sudah tidak relevan untuk mengatur bumi Ciptaan-Nya. Kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, termasuk kerusakan yang terjadi di negeri kita ini adalah akibat perbuatan tangan-tangan manusia yang membuat aturan-aturan untuk mengatur bumi ini, padahal orang itu tidak mampu membuat segenggam tanah atau seekor lalatpun. Tiba-tiba mereka berkumpul untuk membuat aturan yang menyalahi atau menyaingi aturan Allah. Maka, tentu rusaklah bumi ini sebagaimana firman Allah,  “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar Ruum [30]: 41).

Maka, satu-satunya jalan keselamatan dan kesejahteraan lahir bathin kita adalah kembali kepada aturan Allah yang menciptakan langit dan bumi ini.

Apakah menurut Ustadz jamaah Khilafatul Muslimin ini akan mampu memberi solusi bagi krisis yang sedang dihadapi oleh ummat Islam dalam berbagai dimensi, sementara pada kenyataannya ummat Islam yang telah berkumpul dengan jumlah yang mencapai jutaan orang saja belum mampu menunjukkan suatu hasil yang signifikan!

Jama’ah Khilafatul Muslimin ini sebagaimana yang tertera dalam maklumatnya poin ke-empat disebutkan bahwa, “Jama’ah /Khilafatul Muslimin ini akan berusaha maksimal untuk mewujudkan kerjasama antar ummat manusia sesuai ajaran Islam demi keadilan dan kesejahteraan mereka serta keles-tarian alam semesta /rahmatan lil ‘aalamiin” dan poin ke-enam bahwa, “Khalifah /Amirul Mukminin dan para Amir serta warganya akan berupaya memba-ngun segala sarana kemanusiaan dan bergerak disegala bidang, diberbagai aspek kehidupan yang memungkinkan”, adapun hasilnya kita serahkan kepada Allah

Apa saran ustadz kepada ummat Islam yang juga mencita-citakan tegaknya sistem khilafah dan syari’ah agar mempunyai pemahaman yang sama terkait kewajiban ini,  sehingga tetap optimis dalam menghadapi kenyataan yang ada?

Pertama, kita harus menyamakan niat, bahwa, apapun yang kita lakukan adalah semata-mata dalam niat ibadah. Ke-dua, apapun langkah yang kita lakukan dan apapun upaya yang kita tempuh hendaknya berada dalam bingkai ketaatan kepada Allah, ketaatan kepada Rasulullaah dan kepada ulil amri kita, yaitu Khalifah. Ke-tiga, Apapun yang terjadi, baik menyangkut diri pribadi kita atau menyangkut jama’ah kaum Muslimin dan Imam-nya adalah ujian yang merupakan ketetapan Allah untuk menjadi ladang amal shaleh kita atau menjadi jembatan kita menuju syurga. Ke-empat, kita senantiasa berusaha berjalan diatas jalan yang lurus sesuai aturan Allah dan mengajak dengan kasih sayang kepada jalan yang lurus itu, kita tidak memaksa orang lain untuk mengikuti aturan Allah tersebut dan kitapun tidak hendak dipaksa untuk mengikuti jalan yang tidak lurus. Ke-lima, setiap jiwa pasti akan mati, maka beruntunglah orang yang mati dalam membela aturan Allah.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts