GUNUNG MANGLAYANG MENJADI SAKSI “PARA RIJAL” WILAYAH BEKASI RAYA BUKTIKAN SAM’AN WA THO’ATAN DALAM ACARA TAHDZIB DAN TAFAKKUR ALAM

Berawal dari pesan singkat Amir Wilayah Bekasi Raya kepada semua amir Ummilquro dan mas’ul secara berjenjang tanpa di umumkan secara terbuka di group maupun media sosial, pesan berantai ini wajib disampaikan oleh para mas’ul dan amir secara langsung kepada warga nya untuk sebuah misi membuktikan “Sam’an wa tho’atan”. “Biar sedikit tetapi militan daripada banyak seperti buih di lautan, lebih baik menjadi 313 orang pada Perang Badar”, sekelumit pesan tersirat yang dapat di ambil dari sebuah pesan seorang amir.

Malam sabtu 21 Shafar 1439 (10/11/17), hampir seratus orang hadir di Pom Bensin Pekayon tempat titik kumpul yang di maksud sesuai jam yang telah di tentukan, dua truk tentara standby seolah tidak sabar mengantar “Para Rizal” ke tempat tujuan yakni Gunung Manglayang, Sumedang dalam sebuah acara Tahdzib dan Tafakur Alam.

Dua hari tiga malam “Para Rizal” di gembleng fisik dan mental, tanpa di beri tahu teknis dan susunan acara para peserta di minta siap dalam setiap intruksi yang diberikan oleh panitia secara mendadak. Hari pertama tentunya di gembleng dengan materi diantara yang memberikan tausiyah adalah, Ust. Abu Qoyyim Wazir pusat, Ust. Danu Abu Ridho Wazir Daulah dan Ust. Ahmad Supardi Wazir Daulah.

Menjelang maghrib kondisi hujan, para peserta di minta menyiapkan diri dengan pakian lapangan, baju panjang, lengkap dengan sarung tangan dan kelengkapan senter karena akan diberikan intruksi selanjutnya. Peserta yang telah di bagi menjadi empat keamiran dan empat tenda siap dalam kondisi apapun, bentuk applikasi sebuah ketaatan. Pukul 19.00 penitia mengumpulkan para peserta untuk kemudian di berikan arahan, kali ini akan di lakukan “Game ukhuwah”, yaitu simulasi “Perang – perangan”, selasai pukul 22.00 peserta di mita kembali ke kamp masing-masing tetapi harus dengan kesiapan karena sewaktu waktu akan ada intruksi selanjutnya.

Benar saja, tepat pukul 01.00 semua peserta dibangunkan, kondisi masih hujan rintik-rintik dan dingin yang menusuk tulang membuat “Para Rizal” berjuang menuju titik kumpul yang di tentukan. Kali ini semua peserta akan “Menjelajah” sungai kecil diantara dua tebing sampai ke “Curug Ciwalet”, skitar 1,5 jam perjalanan, dengan teknis berpasang – pasangan. Sampai lokasi semua peserta diminta terjun ke air dan segera pulang ke kamp untuk melaksanakan sholat Subuh. Tepat pukul 08.00 semua peserta diminta bersiap-siap di pinggir sungai untuk menerima arahan dan siap-siap untuk pulang. [Tubagus, redaksi]

 

 

Facebook Comments
Tags:

Related Posts