GUBERNUR NTB KUNJUNGI KHILAFATUL MUSLIMIN DI SUMBAWA

Syawal 1438 H /Juli 2017. Sebelumnya di awali dari kunjungan salah satu pegawai pemerintahan yang datang ke Ponpes Ukhuwah Islamiyyah (PPUI) milik Khilafatul Muslimin di Sumbawa, yang menyampaikan bahwa bapak Gubernur NTB adakan kunjungan kerjanya ke PPUI. Namun Ust. Zulkifli Rahman selaku amir Daulah Khilafatul Muslimin menyampaikan, “lain kali saja, karena pondok saat ini sedang libur”, namun dengan sedikit persiapan akhirnya acara ini alhamdulillah tetap bisa berjalan.

“Jauh hari sebelumnya para petugas Kekhalifahan kami utus atas perintah Khalifah untuk menyampaikan Surat Nasehat dan Himbauan tentang Kekhalifahan dan Maklumat kepada bapak Gubernur. Dan kami mendapat laporannya bahwa beliau menyambut baik apa yang kami sampaikan, maka saat ini datang kesini, beliau tidak hanya ingin bertemu dengan santri-santri tetapi juga dengan kami warga jama’ah /Khilafatul Muslimin. Karena sedang libur jadi hanya beberapa saja yang bisa hadir”, kata ustadz yang biasa di sapa Ustadz Zul mengisahkan.

“Sistem pendidikan di kami ini ada tiga unit secara akselerasi (percepatan), Unit setingkat SD hanya 3 tahun dengan standard 9 Juz, setingkat SMP nya 2 tahun standrad nambah 9 juz dan setingkat SMA standard nambah hafalan 10 Juz, jadi menjelang AL Jami’ah (Perguruan Tinggi) target hafalan sudah 28 Juz dan akan di sempurnakan di Perguruan Tinggi.  Sistem pendidikan kami dikenal dengan sistem pendidikan berbasis Khilafah memang agak berbeda dengan sistem pendidikan yang ada di negri ini. Sistem pendidikan kami memang di seting untuk kepentingan penegakkan Dien, jadi tidak untuk menjadi pegawai negri atau pegawai swasta di negri ini”, Usttadz Zul melanjutkan penjelasannya.

“Target kami ingin agar banyak orang-orang memahami Dienul Islam ini secara benar, saat ini masyarakat muslim yang awam melaksanakan Islam selama di cocok-cocokan dengan UUD 45’, KUHP baru mau dilaksanakan, yang tidak cocok nanti dulu. Sementara yang kami fahami dan kami harapkan, bahwa apa-apa yang cocok dengan Islam (Al Qur’an dan hadits) maka itulah yang kita laksanakan, yang tidak cocok kita tidak mau melaksanakan. Dan terkadang dengan pemahaman yang seperti ini seolah olah di bilang anti Pancasila, padahal tidak seperti itu”, tegas ustadz yang saat ini menjabat sebagai Amir Daulah Indonesia Bagian Timur.

“Kita ini tidak ada yang anti, walaupun tidak sependapat tetapi kita tidak anti, walau kita tidak sependapat dengan Kristen misalnya tetapi kita tidak anti kepada Kristen, silahkan mereka merdeka menjalankan keyakinannya, Allah saja tidak memaksa, diberi pilihan, yang mau beriman silahkan, yang mau kafir silahkan asal siap dengan konsekwensi nya. Dan kita tidak pernah memaksakan pemahaman kami kepada yang lain, kita ini memulai Kekhalifahan yang kami yakini sebagai satu-satunya sistem Islam dan satu-satunya wadah bersatu, jadi kita mengajak yang mau saja, yang tidak mau tidak di paksa”, kembali secara jelas Ustadz Zul menegaskan.

Di awali dengan membaca ayat Allah Qur’an Surat Ali Imran ayat 102, Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB). Dr. Muhammad Zainul Majdi menyampaikan kepada hadirin agar dapat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya yakni menjadi orang yang bertaqwa agar “walatamuttunna illa wa’antum muslimun, artinya : janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”.

“Yang kami hormati Kyai Zulkifli Rahman selaku sohibul bait, kami ucapkan terima kasih atas sambutannya, walaupun kedatangan kami mendadak tetapi yang paling pertama dan utama adalah kami ingin menyambung tali silaturahmi. Sesuai petunjuk Rasulullah SAW, ada empat hal yang disampaikan berkali kali, yakni sebarkanlah salam dan perdamaian, berilah bantuan kepada saudara kalian yang membutuhkan, sambung tali silaturahim dan shalat malamlah saat orang-orang lelap tertidur, ketika hal ini dilakukan maka kalian akan masuk Surga (al hadits)”, kisah Tuan Guru Bajang melanjutkan.

“Pondok ini dinamakan Ukhuwah Islamiyyah sudah tepat sekali, sebagaimana kata pepatah “nama itu mencerminkan isinya”, jadi di pondok ini harus nyata persaudaraan, kedamaian dan mengokohkan kebaikannya”, harap pak Gubernur.

“Ikhtilaf hendaknya jangan dijadikan perpecahan, hendaknya saling menghargai dan tetap eratkan semangat persaudaraan. Termasuk ikhtilaf dalam masalah Kekhalifahan, hal ini boleh saya sampaikan sedikit. Tentang ini sesungguhnya telah di bahas oleh para ulama, apakah masalah bukan pokok (laisa minal usul) atau masalah yang tidak bisa tidak /harus (Labudda). Semua ada pembahasannya, sehingga teman-teman yang berpandangan seperti di Khilafatul Muslimin tidak boleh merasa lebih baik dari yang lain. Kata Allah jangan menganggap kamu paling suci, Allah Maha Tahu siapa yang paling bertaqwa”, kata Dr. Muhammad Zainul Majdi.

“Dalam Al Qur’an, Iman pokok, amal wajib, tetapi tidak sampai disini masih ada yang ketiga yaitu saling nasehati dalam kebenaran dan kesabaran (QS. Al Ashr), maka disinilah terbuka dialog dan saling mengisi. Maka kepada pak Kyiai saya berharap semangat persaudaraannya tetap di kedepankan, tetap di kokohkan. Kata ulama janganlah hanya karena perbedaan bisa merusak rasa persaudaraan dan kasih sayang sesama muslim, karena prinsipnya “sesungguhnya mukmin itu bersaudara (QS. Al Hujurat : 10)”. Demikian kutipan nasehat yang lembut dan menyejukan dari Tuan Guru Bajang.

Selanjutnya beliau melanjutkan mengetes hafalan santri dan memberikan hadiah secara langsung pada anak-anak santri. Kemudian secara simbolik memberikan bantuan secara suka rela kepada PPUI yang diserahkan secara langsung kepada Al Ustadz Zulkifli Rahman dan menyampaikan walaupun suntikan ini bukanlah obat karena pondok ini tidak sakit sebagaimana penjelasan Ust. Zul di awal, setidaknya ini adalah suntikan vitamin. Wallahu a’lam.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts