GERAKAN KEBANGKITAN ISLAM GLOBAL Pasca Runtuhnya Kekhalifahan Islam 1924M

Keruntuhan kekhalifahan Islam

Pasca Perang Dunia I, Inggris yang menguasai Istanbul menciptakan sebuah kevakuman politik dengan menawan banyak pejabat negara dan menutup kantor-kantor dengan paksa sehingga bantuan khalifah dan pemerintahannya tersendat. Kekacauan terjadi di dalam negeri, sementara opini umum mulai menyudutkan kekhalifahan yang semakin lemah. Situasi ini dimanfaatkan Mustafa Kemal Pasha untuk membentuk Dewan Perwakilan Nasional – dan ia menobatkan diri sebagai ketuanya – sehingga ada dua pemerintahan saat itu; pemerintahan khilafah di Istambul dan pemerintahan Dewan Perwakilan Nasional di Ankara.
Setelah resmi dipilih jadi ketua parlemen, Pasha mengumumkan kebijakannya, yaitu mengubah sistem khilafah dengan republik yang dipimpin seorang presiden yang dipilih lewat Pemilu. Tanggal 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Pada tanggal 3 Maret 1924 M / 28 Rajab 1342 H, ia memecat khalifah sekaligus membubarkan sistem kekhalifahan dan menghapuskan hukum Islam dari negara. Hal inilah yang kemudian dianggap sebagai keruntuhan kekhalifahan Islam.
Sempat muncul gerakan untuk mendirikan kembali kekhalifahan, tetapi tak ada satupun yang berhasil. Hussein bin Ali, seorang gubernur Hejaz pada masa Kekaisaran Ottoman yang pernah membantu Britania raya pada masa Perang Dunia I serta melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Istanbul, mendeklarasikan dirinya sebagai khalifah dua hari setelah keruntuhan Ottoman. Tetapi klaimnya tersebut ditolak, dan tak lama kemudian ia di usir dari tanah Arab. Sultan Ottoman terakhir Mehmed VI juga melakukan hal yang sama untuk mengangkat kembali dirinya sebagai Khalifah di Hejaz, tetapi lagi-lagi usaha tersebut gagal.
Banyak upaya kaum Muslimin untuk mewujudkan kembali Kekhalifahan, salah satunya Konferensi Tingkat Tinggi Islam tahun 1974 di Lahore Pakistan dimana Presiden Uganda, Idi Amin mengusulkan Raja Faisal agar dibai’at menjadi Khalifah. Tapi Raja Faisal menolak
Gerakan Islam Global Pasca Kekhalifahan
Berikut ini upaya kaum Muslimin untuk membentuk gerakan/organisasi Islam yang bertujuan mewujudkan persatuan kaum muslimin sebagai “pengganti” sistem kekhalifahan:
1. Negara Islam Indonesia (NII)
Negara Islam Indonesia (NII) yang kemunculannya oleh berbagai pihak dituding sebagai akibat dari merasa sakit hatinya kalangan Islam, dan bersifat spontanitas, lahir pada saat terjadi vacuum of power di Republik Indonesia. Sejak tahun 1926, telah berkumpul para ulama di Arab dari berbagai belahan dunia, termasuk Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, guna membahas rekonstruksi khilafah Islam yang runtuh pada tahun 1924.
Sayangnya, syuro para ulama tersebut tidak membuahkan hasil dan tidak berkelanjutan. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang merupakan orang kepercayaan Tjokroaminto menindaklanjuti usaha rekonstruksi khilafah Islam dengan menyusun brosur sikap hijrah berdasarkan keputusan kongres PSII 1936. Kemudian pada 24 April 1940, Kartosoewirjo bersama para ulama mendirikan Institut shuffah di Malangbong. Institut shuffah merupakan suatu laboratorium pendidikan tempat mendidik kader-kader mujahid, yang kemudian menjadi cikal bakal Laskar Hizbullah-Sabilillah. Laskar Hizbullah-Sabilillah tidak diizinkan ikut hjrah ke Yogyakarta mengikuti langkah yang diambil tentara RI, sebagai akibat dari kekonyolan tokoh-tokoh politiknya. Laskar inilah yang pada akhirnya menjadi Tentara Islam Indonesia (TII).
Pada tanggal 10 Februari 1948, diadakan sebuah konferensi di Cisayong yang menghasilkan keputusan membentuk Majelis Islam dan mengangkat Kartosoewirjo sebagai Panglima Tinggi Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Konferensi di Cisayong tersebut juga menyepakati bahwa perjuangan haruslah melalui langkah-langkah berikut:
* Mendidik rakyat agar cocok menjadi warga negara Islam.
* Memberikan penjelasan kepada rakyat bahwa Islam tidak bisa dimenangkan dengan feblisit (referendum).
* Membangun daerah basis.
* Memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia.
* Membangun Negara Islam Indonesia sehingga kokoh ke luar dan ke dalam, dalam arti, di dalam negeri dapat melaksanakan syari’at Islam seluas-luasnya dan sesempurna-sempurnanya, sedangkan ke luar, sanggup berdiri sejajar dengan warga negara lain.
* Membantu perjuangan umat Islam di negeri-negeri lain sehingga dengan cepat dapat melaksanakan kewajiban sucinya.
* Bersama negara-negara Islam membentuk Dewan Imamah Dunia untuk mengangkat khalifah dunia.
Pada tanggal 20 Desember 1948, dikumandangkan jihad suci melawan penjajah Belanda dengan dikeluarkannya Maklumat Imam yang menyatakan bahwa situasi negara dalam keadaan perang, dan diberlakukan hukum Islam dalam keadaan perang. Setelah sembilan bulan seruan jihad suci, maka pada tanggal 7 Agustus 1949, diproklamasikan berdirinya NII yang dikumandangkan ke seluruh dunia. Tujuan dan program yang diemban pemerintah NII adalah menyadarkan manusia bahwa mereka adalah hamba Allah dan berusaha menegakkan khilafah fil ardhi.
Akhirnya, perjuangan panjang Kartosoewirjo selama 13 tahun pupus setelah Kartosoewirjo sendiri tertangkap. Pengadilan Militer pada tanggal 16 Agustus 1962, menyatakan bahwa perjuangan Kartosoewirjo dalam menegakkan Negara Islam Indonesia itu adalah sebuah pemberontakan. Hukuman mati kemudian diberikan kepada Kartosoewirjo.

2. Jama’ah Muslimin Hizbullah
Pada saat sedang gencarnya NII mengadakan konfrontasi dengan negara RI dibawah kepemimpinan Soekarno, sejarah mencatat seorang pegawai negeri di Kementrian Penerangan RI, Wali Al-Fattaah mempunyai suatu pemikiran untuk menyatukan ummat Islam dalam satu jama’ah, yaitu: Jama’ah Muslimin Hizbullah. Terjadilah pembai’atan Wali Al-Fattaah pada tanggal 10 Dzulhijjah 1372 H/20 Agustus 1953. di gedung Aducstaat (Bapenas sekarang) Jakarta menjadi Imam Jama’ah Muslimin Hizbullah.
Konon, Wali Al-Fattaah sempat diutus oleh Presiden RI Soekarno menemui Kartosuwiryo untuk membujuk menyerah kepada pemerintah RI, namun misi tersebut gagal. Setelah wafat 19 Nopember 1976 M, keimamahan Wali Al-Fattaah dilanjutkan dengan pembai’atan H. Muhyiddin Hamidy, tanggal 20 Nopember 1976. Hingga saat ini Jama’ah Muslimin Hizbullah berpusat di Cileungsi, Bogor.

3. Jama’ah Tabligh
Jama’ah tabligh adalah jama’ah yang bertujuan mengembalikan ajaran Islam berdasarkan Al-quran dan hadits. Nama Jama’ah Tabligh merupakan sebutan bagi mereka yang sering menyampaikan. Sebenarnya usaha ini tidak mempunyai nama tetapi cukup Islam saja tidak ada yang lain. Bahkan pendirinya, Maulana Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan aku beri nama “gerakan iman”. Jama’ah Tabligh adalah gerakan Islam yang tidak memandang asal usul mahdzab atau aliran pengikutnya.
Dipimpin oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Ilyas sebagai amir/pimpinan yang kedua, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya pada tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai Asia Barat Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara. Meskipun negara barat pertama yang berhasil dijangkau Tabligh adalah Amerika Serikat, tapi fokus utama mereka adalah di Britania Raya, mengacu kepada populasi padat orang Asia Selatan disana yang tiba pada tahun 1960-an dan 1970-an.
Tahun 1978, Liga Muslim Dunia mensubsidi pembangunan Masjid Tabligh di Dewsbury, Inggris, yang kemudian menjadi markas besar Jama’ah Tabligh di Eropa. Pimpinan mereka disebut Amir atau Zamidaar atau Zumindaar.

4. Rabithah Alam Islami
Dalam rangka menghadapi tantangan-tantangan yang dapat mencerai-beraikan Umat Islam, maka para pemimpin, ulama, cendikiawan dan pemikir Islam sesudah selesai melaksanakan ibadah haji berkumpul di Makkah dalam acara muktamar pada tanggal 14 Zulhijjah 1381 H/19Mei 1962 M. Mereka bersepakat untuk mendirikan Organisasi Islam Dunia (Rabithah Alam Islami) yang bermarkas di Makkah.
Organisasi ini dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal yang saat ini dijabat oleh Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin Al-Turki. Menurut berbagai sumber, Rabithah Alam Islami dibiayai oleh negara-negara muslim namun dana utama berasal dari pemerintah Saudi Arabia. Dana ini dikelola oleh dua kantor utama: kantor Sekretaris Jenderal dan Dewan Konstituante. Dewan ini memiliki 60 anggota, dengan masing-masing negara diwakili oleh dua anggota, keanggotaan bersifat sukarela.
5. Hizbut Tahrir
Hizbut Tahrir adalah kependekkan dari nama aslinya Hizb at Tahrir al Islami (Partai Pembebasan Islam) yang didirikan di Al Quds pada tahun 1952 oleh Taqiyudin an Nabhani (Hafidzul Quran, Qadhi/hakim Palestina lulusan Al Azhar). Hizbut Tahrir bermaksud membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan yang amat parah, membebaskan umat dari ide-ide, sistem perundang-undangan, dan hukum-hukum kufur, serta membebaskan mereka dari cengkeraman dominasi dan pengaruh negara-negara kafir. Hizbut Tahrir bermaksud juga membangun kembali Daulah Khilafah Islamiyah di muka bumi, sehingga hukum yang diturunkan Allah SWT dapat diberlakukan kembali.

Daulah ini adalah daulah Khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah yang diangkat dan dibaiat oleh umat Islam untuk didengar dan ditaati. Khalifah yang telah diangkat berkewajiban untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Itulah sebabnya, walaupun aktivitas Hizbut Tahrir telah berkembang di 40 negara di dunia -dengan alasan belum memenuhi syarat- mereka belum berani mendeklarasikan tegaknya kekhalifahan.

6. Ikhwanul Muslimin
Ikhwanul Muslimin adalah sebuah gerakan Islam terbesar di zaman modern ini. Seruannya adalah kembali kepada Islam sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengajak kepada penerapan syari’at Islam dalam kehidupan nyata. Gerakan ini telah mampu membendung arus sekularisasi di dunia Arab dan Islam.
Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Hasan Al-Banna (1906-1949 M) di Mesir pada tahun 1941 M. Diantara tokoh-tokoh pergerakan itu ialah : Said Hawwa, Sayyid Quthub, Muhammad Al-Ghazali, Umar Tilimsani, Musthafa As-Siba`i, dan lain sebagainya.
Dalam perkembangannya, tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin di berbagai negara banyak mendirikan partai politik dan memperjuangkan Islam melalui sistem parlementer. Di Indonesia pada tgl. 20 Juli 1998 tokoh Ikhwanul Muslimin, ust. Helmi Aminuddin dan ust. Rahmat Abdullah mendeklarasikan Partai Keadilan, yang sekarang menjadi Partai Keadilan Sejahtera.

Khilafah Islamiyah (Khilafatul Muslimin) dimaklumatkan kembali
Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ dari Indonesia membuat sebuah konsep Ma’lumat Khilafatul Muslimin pada tanggal 13 Rabi’ul Awwal 1418 H / 18 Juli 1997 demi mewujudkan cita-cita kaum Muslimin, tegaknya kembali Kekhalifahan Islam. Konsep ini diedarkan kepada orang-orang yang dianggap berhak dan pantas dibai’at sebagai Khalifah untuk kemudian ditulis namanya dalam maklumat tersebut. Namun akhirnya, atas restu beberapa orang sahabat, tawaran tersebut berpulang kepada yang membuat konsep itu sendiri. Maka untuk sekedar mempelopori, beliau memberanikan diri untuk memulainya. Maka pada tahun 1999, secara resmi nama Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ dicantumkan dalam maklumat tersebut.
Pada kongres Mujahidin di Yogyakarta pada tanggal 5-7 Jumadil Ula 1421 H / 5-7 Agustus 2000 M, dihadapan ummat Islam yang hadir baik dari dalam maupun luar negeri, Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ membacakan kembali maklumat tersebut dan menyarankan agar peserta kongres memilih/menunjuk seorang Khalifah (Ulil Amri) pengganti beliau sebagai persyaratan tegaknya syari’at Islam. Namun peserta kongres hanya memberikan dukungan serta menetapkan Kriteria seorang Imam tanpa menunjuk seorang Khalifah / Ulil Amri sebagaimana diusulkan oleh beliau.
Kini bendera kekhalifahan telah mulai berkibar kembali, dan sepatutnyalah mendapatkan dukungan kaum Muslimin dimanapun berada.

Facebook Comments

Related Posts