Dr Buya Amri Mansyur, Mantan Panglima Laskar Jihad Yang Bergabung Dengan Khilafatul Muslimin

Tanya :            Bagaimana kondisi kesehatan Buya sekarang ?

Jawab :            Alhamdulillah sehat wal ‘afiat, bahkan atas izin Allah ana masih bisa melatih bela diri kalau di Khilafatul Muslimin ada Bela Diri Lebah Putih kalau di Padang ini nama bela dirinya adalah “Tapak Suci Moslem Martial Art”

Tanya :            Buya sekarang tinggal di mana dan Usia Buya sekarang sudah berapa ?

Jawab:             Ana tinggal di Padang kota di Unileser Andalas namanya, Usia alhamdulillah sudah jalan 67 Tahun.

Tanya:             Kami dari redaksi majalah Al Khilafah mau minta waktu Buya sedikit untuk menceritakan pengalaman Buya, bisakah ?

Jawab:             Ya baik bisa sekali, insya Allah ana jawab semampu ana.

Tanya :            Bisa kah Buya menceritakan kondisi politik ketika Buya masih remaja sekitar umur 20 tahunan ?

Jawab :            Kondisi waktu itu sekitar tahun 1940 sampai dengan 1950 gerakan Islam lebih banyak dengan semangat – semangat melului pembentukan Group sendiri – sendiri, ada yang keras dan ada yang bersifat anti pada pemerintah dan ada juga yang hanya cukup menuntut ilmu tanpa pergerakan, sangat variatif sekali bisa dikatakan mereka tidak bersatu. Salah satu yang dikenal adalah adik – adik ana kader mubaligh dengan harakah – harakah keras jihad waktu itu.

Tanya:             Di zaman Buya masih remaja apakah Buya pernah mengikuti gerakan – gerakan Islam pada waktu itu ?

Jawab :            Saya pernah masuk di PII ( Pelajar Islam Indonesia ), aktif di Olah Raga seni bela diri Kungfu namanya. Kalau di Sumatra Barat ada orang yang mengaku ahli bela diri tentu kenal dengan Ana DR seni Bela Diri “ Doctor Tanding “ namanya, alhamdulillah.

Tanya :            Buya sendiri sebelum bergabung di perjuangan Islam melalui sistem Kekhalifahan Islam / Khilafatul Muslimin pernah kah ikut harakah lain ? Atau pernah aktif di partai politik ?

Jawab :            Memang semangat militansi penegakan Al Islam sudah menghujam dihati ana karena ayah ana termasuk ulama besar di padang namaya alm.Mansyur Khatib Mangkuto angkatan Buya Nasir, tetapi ana belum pernah di Harakah. Sementara kalau di Partai politik belum pernah masuk secara aktif namun pernah mendirikan PUI ( Partai Umat Islam ) di Padang di bawah pimpinan Jakarta Mukhtar Na’im dan Giliar Noor. Kemudian datanglah utusan Syeikh dari tanah Arab membawa kitab dan dikaji selama satu pekan mengatakan bahwa “ Tidak Boleh Partai – partai politik ini pun karena termasuk Firqah – firqah / Perpecahan “ maka memeberikan nasehat kepada ana “ Tinggalkanlah buya jangan ikut dalam partai politik “ sehingga PUI pada saat itu ana tinggalkan, ini terjadi sekitar tahun 1987.

Tanya:             Kemudian diatas tahun 1990 sampai sebelum bergabung ke Khilafatul Muslimin apakah buya pernah mengikuti harakah – harakah Islam atau salah satu Jama’ah yang ada di Indonesia ?

Jawab :            Tidak pernah, Cuma ketika itu dari FPI Jawa akan membentuk FPI di Sumatra Barat namun ana bersama kawan – kawan merasa harus dirubah nama menjadi FMPI ( Front Masyarakat Pembela Islam ) dengan misi yang berbeda dengan FPI Jawa, karena ana kurang setuju dengan tindakan – tindakan FPI Jakarta ketika itu. Kemudian perlu juga ana sampaikan ana pernah menjadi Panglima “ Laskar Jihad Ahlu Sunnah wal Jama’ah” Sumatra Barat, Komandan Besarnya di Indonesia  ketika itu Ja’far Umar Thalib.

Tanya:             Pada saat itu ada dikenal istilah “ Khawarij “ ya, bisa kah buya jelaskan ? Kemudian apakah benar Buya “ Laskar Jihad “ ini mengaku bahwa Ulil Amri nya adalah Presiden ?

Jawab:             Iya begitulah, ketika itu para penentang pemerintahan ala Demokrasi yang sudah ada di istilahkan sebagai “ Khawarij “. Presiden di anggap sebagai Ulil Amri bukan pada waktu itu saja bahkan sampai saat ini khususnya ikhwan – ikhwan kita yang berada di pengajian “Salaf” mengatakan bahwa Ulil Amrinya adalah SBY. Pada waktu ana bergabung ke Khilafatul Muslimin dan diba’iat oleh Khalifah di Sumatra Barat, malam harinya ramai yang datang kerumah saya menyatakan bahwa “ Buya! Kami sangat tidak setuju kalau Buya menjadi Amir Khilafatul Muslimin di daerah sini karena menurut kami tidak cocok dengan pengajian – pengajian Salaf yang sudah selama ini kita bina “ Ana tanya apanya yang tidak cocok ? Amir kita kan sudah sepakat adalah SBY tegas mereka. Oh begitu menurut kalian, ana katakan “adakah Islam di Malaysia taat kepada SBY? Kalaulah SBY pemimpin umat Islam seharunya bisa ditaati oleh semua umat Islam dimanapun berada”.

Tanya :            Bagaimana Tanggapan / respon mereka setelah Buya masuk ke Khilafatul Muslimin, apalagi sebagai Amir di daerah Padang ?

Jawab:             Memang mereka sempat memberikan saran dan bertanya, kenapa Buya sebelum masuk ke Khilafatul Muslimin tidak bertanya dulu kepada Ulama Salaf? Kata ana begini “ sesuatu yang sudah Ma’sum / Jelas tidak perlu ditanyakan lagi ” saya sudah sangat jelas dengan penjelasan dari Khalifah Abdul Qodir Baraja’ dan sekarang tinggal menjalani. Kemudian lanjut mereka para “ Ulama Salaf “ tidak ada yang mengangkat Ulil Amri, Buya! Oh begini ana jawab ketika Rasulullah wafat maka segera di bentuk Kekhalifahan Islam / Pemerintahan Islam dengan Abu Bakar sebagai Ulil Amri / Khalifahnya, bukan tidak ada Ulama ketika itu bahkan banyak sekali Ulama Salafus Shalih yang sekarang kita ikuti, nah ini menjadi bukti bahwa penegakan sistem dan mengangkat Ulil Amri menjadi sangat perlu, bukan sekelompok Ulama adalah Ulil Amri, jadi harus jelas. Bahkan Ulama Salafus Shalih ketika itu mempunyai Ulil Amri yaitu Abu Bakar Ash Shidiq.

Tanya:             Setelah mereka mendapat penjelasan dari Buya seperti itu kemudian apa sikap mereka terhadap Buya sekarang ?

Jawab :            Ya sepertinya sampai disitu saja. Ana Cuma mengingatkan saja kepada mereka yang paling keras dulu menantang Kekhalifahan Islam ini dan mengajarkan nya kepada kalian kan ana, kalian tadinya cuma enam orang belajar dirumah kemudian sampai bisa tersebar ke mesjid – mesjid di Sumatra Barat itu kan dari Ana, cobalah kalian fikirkan apakah Buya salah dalam melangkah sekarang ini? Insya Allah tidaklah salah, tidak mungkin akan mengajak kepada kesesatan karena ini sudah sangat jelas.

Tanya:             Ya semoga hidayah Allah kepada kita dan kepada mereka semua, kemungkinan mereka itu semua merid – murid Buya kah ?

Jawab:             Aamiin. Ya dulu nya mereka itu juga mengajinya / Ta’limnya di rumah ana kemudian tersebar di Sumatra Barat ini. Hanya saja sekarang mereka ada yang kuliah di Jember, di Yogyakarta dan lain – lain.

Tanya :            Terakhir ini Buya pertanyaan kami, setelah dimaklumatkan nya Kekhalifahan Islam di dunia dimulai dari Indonesia ini apa pesan buya kepada ummat Islam di dunia khusunya juga di Indonesia ini ?

Jawab:             Tidak ada jalan lain yaitu satu – satunya adalah kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah yaitu Khilafah Islam sebagaimana nabi Saw ingatkan dalam sabdanya  “ Latazalu Tho’ifatan min ummati dzohirina ‘alal Haq, …. Dst yang artinya “ Akan ada segolongan dari ummatku yang berani diatas kebenaran, dan tidak ada yang mendatangkan mudharat orang – orang yang menyalahkan mereka dan orang yang mencaci mereka sehingga tiba janji Allah, sedangkan mereka tetap Istiqomah “ jadi jangan takut – takut lagi dalam kembali kepada Kekhalifahan Islam ini, itulah pendapat Ana. Kemudian lagi adalah ummat nyata sekarang ini berpecah belah / berfirqah – firqah jadi untuk mengatasi hal ini tidak lain adalah mengikuti jejak ummat baik terdahulu “ Lamyatuha akhiri lil ummah, bima lil …dst yang artinya “ tidak akan baik ummat ini kecuali mengikuti ummat baik yang awal “.

 

Facebook Comments
Tags:

Related Posts