BUKTI TAUHIDULLAH DALAM KEHIDUPAN NYATA

TAFSIR 0

Ustad Zulkifli Rahman Al Khateeb

BUKTI TAUHIDULLAH DALAM KEHIDUPAN NYATA

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa, Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas [112] : 1 –  4)

Disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir, ada puluhan riwayat yang menerangkan bahwa surah yang mulia ini, meski hanya terdiri dari empat ayat, setara dengan sepertiga Al Qur’an.

Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam diminta untuk mensifati Rabbnya, maka Allah Subahanahu wata’ala turunkan keempat ayat ini, yang dua diantaranya berupa itsbaat dan dua ayat lagi berupa nafyu. Yang berupa itsbaat yaitu dua nama Allah diantara 99 asma’ul husna yaitu Al Ahad dan As Shomad. Sementara yang berupa nafyu adalah meniadakkan Allah beranak dan diperanakkan, dan meniadakkan adanya sekutu bagi Allah.

Hal lain yang menarik untuk kita renungkan, kenapa surat ini disebut setara dengan sepertiga Al Qur’an? Padahal hanya terdiri dari empat ayat. Ayat pertama mencerminkan nilai tauhid yang murni, Allah hanya satu, hanya satu Allah. Itulah yang kita disuruh katakan dengan jujur. Bukan sekedar mengatakan tapi diliputi kebohongan. Sekarang kita renungkan, apakah kita sudah jujur mengatakan Allahu Ahad sementara dalam diri kita tidak hanya ada Allah.

Apakah kita sudah jujur, padahal pangkat dan jabatan masih lebih utama bagi kita daripada Allah? Padahal aturan Allah tidak lebih kita utamakan, padahal dalam hidup kita, masih lebih utama mencari nafkah daripada menegakkan agama Allah, padahal istri dan anak kita masih lebih kita cintai, padahal ancaman Allah bahwa dimanapun kamu berada, maut pasti menjemputmu, tidak lebih kita takuti daripada ancaman Amerika atau densus 88, padahal… Padahal… ! ya Allah…!  Anugerahkan kami rasa takut kepadaMu sehingga terlihat kecil bagi kami meski sebesar apapun musibah dunia yang menghantui. Aamiin.

Ayat berikutnya mencerminkan rasa tawakkal sepenuhnya kepada Allah, dimana Allah memerintahkan kita untuk mengatakan “Allahus shomad”. Jika ayat sebelumnya merupakan sendi pokok tauhid, dimana semua derap langkah kita mengarah kepada tujuan yang satu sembari bermohon agar di tunjuki Allah jalan yang satu juga (shirathal mustaqim), maka dalam ayat ini, Allah yang “As Shomad” menuntun kita untuk membulatkan tekad untuk hanya bergantung pada Allah dalam setiap langkah kita. Tidak perduli apapun yang bakal menimpa kita dan apapun yang akan kita alami, tetap teguh dan tegar dijalanNya.

Jika kita renungkan lebih dalam lagi, apakah kita sudah mengatakan “Allahus Shomad” dengan jujur sementara dalam memperjuangkan Dienullah kita masih mau berunding dengan selain sistem Allah, masih mau berhukum dengan hukum thaghut untuk mendapatkan hak kita, untuk mencari keadilan dan untuk mencari jalan selamat dengan dalih kisah Ammar bin Yasir, padahal belum pernah kita mengalami siksaan sedikitpun, tidak juga ayah dan ibu kita dibunuh didepan mata kita, dan tidak juga tubuh kita terkoyak oleh cemeti.

 Belum apa apa kita sudah menyerah….! Apakah kita sudah jujur dengan “Allahus Shomad” kita, dimana “Ash Shomad” artinya padat dan tidak berongga, tidak dapat dimasuki oleh apapun. Apakah dalam tekad kita yang bulat, kita tidak membiarkan aqidah kita untuk dimasuki oleh kapitalisme dan sekularisme, atau bujuk rayu setan yang selangkah demi selangkah sehingga tidak kita sadari.

Dua ayat ini merupakan statement yang kita diarahkan untuk mampu menyatakannya dengan tulus dan jujur, kemudian dengan gagah berani meniadakkan apapun yang tidak sesuai dengan sifat Allah. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, karena yang beranak dan diperanakkan, berarti pernah lahir, maka berarti bisa mati.

Tidak juga mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah dalam segala hal. Mengatakan dengan jujur akan keempat hal ini, berarti berani dengan resikonya dalam praktek nyata. Bukan sekedar omong kosong belaka. Maka tergambar sudah, jika satu surat ini saja mampu kita aplikasikan dalam kehidupan kita, berarti kita sudah mengaplikasikan sepertiga dari Al Qur’an.

Semoga Allah pandaikan kita meniti jalan yang satu, shiraatal mustaqim. Tidak hanya puas dengan tujuan yang satu padahal jalan kita berbeda beda. Semoga Allah satukan kita dalam satu kepemimpinan, satu tuntunan, satu ikatan, dan satu jalan sebagaimana Allah satukan kita dalam satu tujuan. Aamiin.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts