BERSATU SYARAT KEBANGKITAN

Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (Dien) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran : 103).

Perintah Allah tersebut mustahil di ingkari oleh setiap orang yang mengaku beriman dan demikian juga larangan tersebut diatas wajib dihindarinya. Dari ayat di atas dapat di ambil kesimpulan :

  1. Wajibnya bersatu dalam satu Jama’ah (ber-JAMAAH)
  2. Haramnya berpecah belah apapun alasannya.

Sesungguhnya kedua kesimpulan tersebut diatas tak terbantahkan oleh akal sehat manusia siapapun dia, baik dia beriman maupun dia orang-orang kafir kecuali yang kurang sempurna akalnya. Adapun bagi orang-orang yang mengaku beriman permasalahan dari dua kesimpulan di atas bila dilaksanakan dengan tulus ikhlas insya Allah akan mendapatkan ridha Allah SWT. Sebaliknya jika dilanggar /tidak dipatuhi niscaya ancamannya adalah api Neraka /azab yang pedih. Kewajiban yang sangat fundamental ini, merupakan kewajiban mutlak yang wajib di aplikasikan dalam kehidupan nyata di muka bumi ini demi keselamatan dunia dan akhirat.

Perhatikanlah bahwa hidup di dunia fana yang sebentar dan sekali lewat ini tanpa dapat diulangi kembali, tanpa ekperimen dan hanya sekali jadi ini, akan dimintai pertangungan jawabannya di akhirat dari segala sikap dan perbuatan seseorang sekalipun hanya berupa ucapan pasti dipertangung jawabkannya di kemudian hari di hadapan Rabb nya, untuk mendapatkan janji Surga dari bukti ketaatannya atau ancaman Neraka sebagai akibat kebandelan /kedurhakaannya.

Sebagaimana Allah SWT berfirman,

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir (mencatat)”. (QS. Al Qaaf (50) : 18).

Sesungguhnya telah tegas tujuan kehidupan jin dan manusia dinyatakan oleh Allah untuk hanya beribadah kepada Nya, yakni mempraktekkan dan mengimplementasikan ajaran Allah dan Rasul-Nya sepanjang hidup di dunia dalam segala aspek kehidupan walaupun kebanyakan jin dan manusia membangkang.

Adapun mempraktekkan ajaran Allah dan Rasul-Nya sebagai bukti ketaatan demi keselamatan dunia dan akhirat secara keseluruhan (kaffah), sayaratnya wajib berjama’ah /bersatu di bawah SATU KEPEMIMPINAN. Sudah cukup panjang waktu berpikir berdasarkan keyakinan yang penuh bahwa Dienul Islam ini telah sempurna sehingga tidak ada kegiatan seremeh apapun yang tidak mampu kita gunakan sebagai sarana ibadah jika kita mau, karena memang hidup ini hanya untuk IBADAH.

Allah SWT secara tegas menyatakan bahwa Dienul Islam ini sudah sempurna, sebagaimana Allah berfirman,

“…Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu (Dien mu) dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama (Dien) bagimu …”. (QS. Al Maidah (5) : 03).

Renungkanlah !!! Jika masalah remeh pun seperti makan, bangun, tidur dan lain-lain persoalan yang dengan gampang kita laksanakan walaupun tanpa tuntunan namun masih perlu juga diberitahukan bagaimana cara prakteknya di dalam Islam sebagai bukti kesempurnaan ajaran Dienul Islam itu sendiri sebagaimana Allah terangkan didalam ayat di atas. Pertanyaannya, apakah kemudian masalah yang sangat prinsip dan paling utama demi keselamatan dan kesejahteraan serta kedamaian hidup dari dunia sampai akhirat, tidak diterangkan /dijelaskan cara prakteknya? Tentu hal ini adalah mustahil.

Maka tidak selayaknya orang-orang yang mengaku beriman mengarang-ngarang cara sendiri untuk mewujudkan kesatuan ummat selain dengan cara yang ditetapkan oleh Dien. BERSATULAH DEMI KEBANGKITAN. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts