Kuliah Dhuha Munawwarah

Bersatu, Kewajiban Mutlak Ummat Islam Yang Tidak Boleh Ditunda

BERITA KEKHALIFAHAN 0

Pamulang – Ahad, 22 Dzulhijjah (27/10), Pengurus Masjid Al-Munawwarah menyelenggarakan Kuliah Dhuha di Masjid Al-Munawwarah, Pamulang, dengan tema “Mempersatukan Ummat Islam Sedunia Mengikuti Sunnah Rasul”, dengan pemateri Khalifah/AmirulMu’minin Abdul Qadir Hasan Baraja. Dimulai pukul 08:30 WIB, acara dibuka oleh Ustad Abu Jiibril yang bertindak sekaligus sebagai moderator.

Dalam pembukaannya, Abu Jibril sedikit memperkenalkan profil Khalifah kepada para hadirin. Seorang mujahid yang dikenalnya sejak 40 tahun yang lalu, “istiqamah dan keras hati (dalam mempertahankan prinsip Din), namun tetap lembut dalam penyampaian dengan senyum khas yang tidak berubah sejak dulu,”.

Sesuai dengan tema, Khalifah Abdul Qadir Baraja menyampaikan tentang pentingnya kesatuan ummat dalam iqamatuddin (penegakkan Din). Berdasarkan sunnah, tidak ada wadah untuk menyatukan ummat Islam kecuali dengan Khilafah. Hal ini telah menjadi kesepakatan dan fakta sejarah.

Yang sering menjadi perdebatan ummat saat ini adalah bagaimana memulai kekhalifahan yang telah lama runtuh. Diawali dengan jihad kah, atau dakwah kah yang lebih didahulukan, atau pembenahan akhlak ummat kah yang lebih dulu diutamakan, dan lain-lain. Kesemua pendapat ini berujung pada harapan tegaknya kembali kekhalifahan Islam sebagai tempat bersatu dan berkumpulnya seluruh potensi ummat.

Bagaimanapun, “penilaian haq itu berdasarkan tuntunan, bukan berdasarkan kenyataan,”. Khalifah Abdul Qadir Baraja memberikan sebuah alternative berfikir untuk memulai mewujudkan kesatuan ummat (Khilafah), lalu berjuang bersama mewujudkan kesempurnaan syarat tegaknya Din.

Kewajiban bersatu itu mutlak berdasarkan perintah, adapun kekuasaan merupakan salah satu indikator kesempurnaan tegaknya Din. Sementara, “benar dengan segala kekurangannya, jauh lebih baik daripada salah dengan segala kesempurnaannya,”.

Dalam sesi pertanyaan, salah seorang hadirin menanyakan tentang bagaimana penerapan syariat hudud bisa dilaksanakan dalam Khilafatul Muslimin yang belum memiliki kekuasaan wilayah.

“Pelaksanaan hukum hanya dapat dilakukan di dalam wilayah hukum yang dikuasai. Sementara wilayah akan didapat dengan dukungan ummat. Jika wilayah sudah didapat, ummat yang mendukung tadi harus sudah siap qital (perang), karena musuh Islam pasti tidak akan senang,” jawab Khalifah singkat.

Semua fase perjuangan diatas, mulai dari meraih dukungan ummat, hijrah, jihad, hingga penerapan hukum secara kaffah (sempurna) harus tetap dalam kerangka kesatuan ummat (Khilafah), sebagaimana para sahabat berjuang seluruhnya dibawah kepemimpinan Nabi sejak dari Mekah hingga di Madinah.

Khalifah - Abu Jibril

Khalifah & Abu Jibril

Diakhir acara, Abu Jibril selaku moderator menyampaikan sebuah kesimpulan penutup.

“Perbedaan mendasar pergerakan Islam pada umumnya yang bercita-cita menegakkan Khilafah saat ini dengan Kekhalifahan (Khilafatul Muslimin) yang telah dimaklumatkan oleh Ustad Abdul Qadi Baraja, adalah seputar Khilafah dulu baru kekuasaan, atau kekuasaan dulu baru Khilafah,” kata Abu Jibril.

“Namun yang jelas tanpa perbedaan, adalah bahwa bersatu itu wajib saat ini juga,” tambah beliau meng-amini penyataan Khalifah Abdul Qadir Baraja. [NP]

Facebook Comments
Tags:

Related Posts