khalifah Abdul Qadir Hasan Baraja
khalifah Abdul Qadir Hasan Baraja

Bersatu, Jalan Meraih Ridha Allah

TAUSHIYAH KHALIFAH 0

Wujud dari bersatu padu nya ummat Islam itu apabila berada didalam konsep Islam dengan satu kesatuan kepemimpinan Islam. Ketika ummat Islam dipimpin oleh banyak pemimpin dan tidak berada didalam konsep Islam maka berarti ummat ini berada di dalam perpecahan yang mana hal ini sangat dilarang oleh Allah dan merupakan dosa besar.

Allah berfirman dalam Qur’an Surat Ar-Rum: 31-32, “…Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka“.

Perpecahan mengakibatkan konsep Islam, konsep yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, tidak dapat terlaksana secara kaffah (paripurna). Secara rasional konsep apapun didunia ini baik yang Haq maupun yang batil menghendaki penganutnya untuk bersatu agar konsepnya berjalan dan tidak mengalami kehancuran.

Dalam konsep selain Islam (batil), berjalan atau tidaknya tidak ada pertanggung jawaban dihadapan Allah, tidak ada ancaman baik azab atau neraka. Karenanya, didalam konsep batil (ghairil Islam) tidak mengenal surga dan neraka. Sementara dalam konsep Islam pasti akan dimintai pertanggung jawaban baik didunia maupun diakhirat kelak. Apabila tidak melaksanakan amanah dari Allah berupa pelaksanaan ajaran secara kaffah maka Ia telah berdosa dan neraka balasanya, begitu juga sebaliknya.

Satu-satunya jalan agar kita mendapat ridha Allah adalah dengan bersatu padu didalam konsep Islam (wahyu) dan menghindari konsep buatan manusia (ra’yu / akal), dengan satu kepemimpinan Islam. Mewujudkan semua amal ibadah kita didalam konsep tersebut.

Semua Ulama, sepakat bahwa bersatu didalam konsep Islam itu wajib hukumnya secara mutlak. Namun fenomena yang terjadi saat ini adalah mereka mengajak ummat Islam ini bersatu digolonganya masing-masing dengan konsep menurut pemikiranya (ra’yu), bukan pada konsep Islam yang datangnya dari Allah dan Rasul Nya. Hal ini membuat ummat terjebak didalam perpecahan itu sendiri.

Untuk itu, kita mengajak mereka bersatu menurut Allah dan Rasul Nya sebagaimana yang di ikuti oleh generasi terbaik yaitu para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Bersatu padu pada apa yang dikehendaki Allah, dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Bukan bersatu menurut pendapat ulama-ulama, syeikh-syeikh ataupun menurut pendapat orang-orang yang dianggap pintar.

Didalam keterangan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim dikatakan bahwa dijaman Nabi maka ummat dimpimpin didalam konsep Islam yang dinamakan An Nubuwah (konsep kenabian). Setelah Nabi Muhammad, tidak ada lagi nabi, maka selanjutnya ummat akan dipimpin didalam konsep Islam yang bernama Al Khilafah dengan metode kenabian, maka disebut Khilafah ala minhajin Nubuwah.

Maka ketika Nabi wafat, para sahabat segera mengangkat Abu Bakar Ash Shidiq menjadi Khalifah sebagai pemimpin dari wujud konsep Islam itu sendiri. Kemudian dilanjutkan oleh Ummar bin Khathab, kemudian Utsman bin Affan, kemudian Ali bin Abi Thalib, terus berlanjut sampai kepada kekhalifahan Utsmaniyah di Turki yang hancur pada tahun 1924 oleh konspirasi Yahudi.

Dan hal ini akan terus berlanjut hingga hari kiamat. Rasionalah ketika Allah I menciptakan kita sebagai khalifah – khalifah dimuka bumi maka khalifah – khalifah ini lebih utama dipimpin oleh satu orang Khalifah / Amirul Mukminin.

Ketika runtuhnya Kekhalifahan Islam tahun 1924 di Turki, maka ummat Islam terserak-serak didalam perpecahan yang sangat hebat. Kemudian tahun 1997 dimaklumatkan kembali Kekhalifahan Islam (Khilafatul Muslimin) sebagai satu-satunya wadah tempat ummat Islam bersatu dalam mengembalikan konsep Islam yang sudah lama ditinggalkan. Hal ini dimaksudkan agar ummat Islam tidak terjebak berada didalam golonganya masing-masing dengan konsep yang dibuat berdasarkan ra’yu (akal) nya.

Inilah yang harus kita perjuangkan dalam rangka menegakkan Islam (Iqomatuddin). Bersatu didalam konsep Islam (Al Khilafah) dengan satu kepemimpinan Islam/Ulil Amri/Khalifah (QS An Nisa : 59). Menegakkan Islam dalam semua aspek kehidupan didalam konsep Islam itu sendiri, sehingga mengundang ridha Allah

Allah berfirman:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”, (QS At Taubah: 100).

Dewasa ini masih banyak sekelas Ulama yang menafsirkan Ulil Amri sebagai pemimpin suatu golongan/bangsa/negara, dengan pemahaman bahwa Rasulullah adalah pemimpin Negara Madinah yang diyakini sebagai Negara Islam Pertama didalam literatur sejarah Islam. Ini pemahaman yang sangat keliru dan perlu diluruskan.

Islam tidak boleh dibawa atas nama suku, bangsa ataupun golongan. Islam bersifat Rahmatan lil ‘alamin, ruang ruang lingkupnya adalah fil ardhi (bumi Allah). Ketika Islam dibawa atas nama bangsa/golongan maka Allah akan menurunkan azab berupa keganasan satu bangsa/golongan terhadap bangsa/golongan yang lain. Hal ini sudah banyak sekali terjadi dijaman sekarang ini.

Benarlah apa yang telah Allah kabarkan didalam Al Qur’an.

Katakanlah: Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahami(nya)“. (QS Al An’am: 65).

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts