BERJUANG ITU SEKARANG BUKAN NANTI

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?  (Apakah) perumpamaan (penghuni)  Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya? (QS. Muhammad (47) : 14-15).

Bersyukur kita atas Rahmat Allah SWT, kita telah sampai dan berada didalam sesuatu yang telah lama hilang ditengah-tengah ummat Islam yakni sistem Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin). Sistem yang perjalanannya meskipun dengan tahapan yang sangat minim dari kesempurnaan dan dengan sorotan tajam dari masyarakat muslim yang selalu mempermasalahkan legalitas Kekhalifahan ini dimata ajaran Islam yang selalu dipertanyakan disetiap waktu.

Hampir seabad lamanya kita ummat Islam hidup tanpa pemimpin dan sistem yang benar. Hal ini dikarenakan banyaknya perintah yang belum kita laksanakan dan belum pula terlihat apa yang kita lakukan. Padahal syarat legal atau sahnya bukan terletak pada pelaksanaan kewajiban melainkan upaya kesempurnaannya. Sebab pelaksanaan kewajiban yang menjadi syarat sahnya tidak rasional dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

Coba kita perhatikan, Allah SWT berfirman,

 

 “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al Anbiya (21) : 107).

Ayat ini merupakan Ma’lumat Kenabian Muhammad SAW yang pada waktu itu belum sempurna turunnya wahyu dan sekaligus pertanda belum sempurnanya ajaran, dengan demikian maka wajibnya bukan pada telah sempurnanya pelaksanaan ajaran, melainkan pada upaya pelaksanaan ajaran menuju kesempurnaan.

Allah SWT memberikan gambaran kepada hamba-Nya bahwa Surga yang akan diberikan kepada hamba-Nya yang bertaqwa adalah terdapat banyak sungai dan segala jenis buah-buahan, tetapi lebih dari itu dan menjadi harapan utama adalah ada ampunan dari Allah SWT, sehingga terbebas dari api Neraka yang didalamnya terdapat minuman yang mendidih dan dapat merontokan usus-usus bila diminumkannya.

Surga seperti yang digambarkan diatas adalah hanya untuk orang yang berada pada petunjuk Allah SWT yang sangat jelas dan Neraka hanya untuk hamba-Nya yang mengingkari petunjuk-Nya. Hamba Allah yang benar itu jelas berada diatas petunjuk dan jalan Allah SWT (‘ala sirath) dan berada didalam sistem yang Haq bukan berada diatas petunjuk selain-Nya (kesesatan /batil) juga bukan berada di sistem Thagut. Haq dan Batil ini kita pertaruhkan saat ini bukan nanti, maka jangan santai-santai dalam perjuangan ini, harus serius dan sungguh-sungguh dalam pembuktian kerja nyata (amal) dalam tugas dan kerja yang diamanahkan kepada kita masing-masing.

Apapun yang ada didalam Kekhalifahan ini baik yang menyenangkan apalagi yang menyusahkan, harus dilaksanakan dengan ikhlas dan sepenuh hati. Perjuangan inilah yang harus kita buktikan dengan pengorbanan sekarang ! bukan nanti. Ini sungguh hal yang sangat luar biasa, karenanya kita harus mempersiapkan lahir dan batin kita untuk menempuhnya dan ini harus menjadi perhatian kita. Walaupun di kira kecil nilai dan hasilnya, dan kita bukan ahlinya tetapi jika dilakukan dengan bersungguh-sungguh maka akan menjadi sangat berharga di sisi Allah SWT dan pasti Allah akan menolong kita dan memandaikan kita. Karena prinsip bahwa kita telah berada didalam Al Haq yakni satu-satunya sistem kepemimpinan Islam yaitu Khilafah Islamiyyah.

Tidak akan pernah ada ulama yang melihat sistem lain dari Khilafah sebagai sistem yang Haq, dan kita telah berhasil menepis dan menyingkirkan rintangan untk kita sampai pada sistem Khilafah ini.

Kepada pengusung Kekhalifahan ini muhasabah diri agar senantiasa menjaga diri dari berbuat maksiat, dan senantiasa menjaga ketaatan sehingga Rahmat Allah SWT akan turun. Karena Rahmat Allah turun pada ketaatan bukan pada kemaksiatan. Maka alangkah ruginya kalau kita berjuang ini tidak serius dan tidak sungguh-sungguh. Rasulullah SAW memberikan gambaran tentang keseriusan orang yang menunggu waktu shalat di mesjid, dari satu waktu shalat ke waktu shalat yang lainnya, bila ia menunggu tanpa keluar mesjid maka dinilai shalat semuannya dan disebut juga ribath.

Kita niatkan semua hidup kita ini untuk beribadah dengan penuh keseriusan dan kesungguhan dalam beramal. Semoga kita bisa bangkit secepatnya dan sedini mungkin untuk menyambut Rahmat-Nya, aamiin. (dok. red. Tausiyah Khalifah tahun 1429H).

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts