BERDAKWAH KARENA MELAKSANAKAN PERINTAH

TAFSIR 0

Ust. Zulkifli Rahman Al Khateeb

BERDAKWAH KARENA MELAKSANAKAN PERINTAH“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu, akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS An Nahl (16) : 125 – 128).

Pada dasarnya Allah Subahanahu wata’ala meme rintahkan dakwah ini kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, kekasih-Nya, pesuruh-Nya dan utusan-Nya. Hamba-Nya yang paling baik, paling bijak dan paling cerdas. Jika sekiranya Allah Subahanahu wata’ala memerintah dengan kalimat singkat, “wahai Muhammad, berdakwahlah”, rasanya sudah cukup memadai, akan tetapi Allah yang Maha Rahman, menerangkan panjang lebar, karena perintah ini nantinya tidak hanya khusus kepada Nabi-Nya, akan tetapi berlaku umum bagi semua pengikutnya. Maka sebagai bentuk kasih sayang Allah, selain memerintahkan berdakwah dengan bijak, Allah Subahanahu wata’ala juga menerangkan bahwa akan ada konsekwensi logis yang akan dihadapi dalam dakwah ini. Agar setiap pengemban misi dakwah benar benar siap dalam menghadapi resiko apapun.

            Dakwah ini harus disampaikan dengan bijak, artinya tidak sembarang menyampaikan, ada tahapan tahapannya, ada tata tertibnya, maka Allah Subahanahu wata’ala menyebut disini sabiili Rabbika (jalan Rabbmu) maksudnya mereka diajak untuk berada diatas jalan. Mereka yang tidak berada diatas jalan yang benar disebut menyimpang atau maksiat, karena mereka berada diatas jalan yang lain dan mereka sudah tebiasa dan tidak merasa bersalah. Tentunya akan berat bagi mereka untuk merubah kebiasaan yang walaupun salah. Mereka yang sudah terbiasa dengan kemusyrikan, amat berat untuk berpindah jalan, maka dakwah ini harus disampaikan dengan bijak.

            Yang namanya dakwah dan nasehat, sudah tentu akan terasa berat, jika tidak disampaikan dengan ringan, maka beratnya akan bertambah tambah, maka jangan sampai kita merasa lebih pintar untuk menggurui, merasa lebih sempurna untuk memperlihatkan kekurangan orang lain atau mempermalukannya didepan orang lain. Ketika kita berdebat sekalipun, jangan sekedar berfikir untuk mengalahkan atau mematahkan hujjah, karena pada kenyataannya, mereka yang dikalahkan dalam perdebatan atau dipatahkan hujjah nya, akan naik kesombongannya dan akan bertambah pengingkarannya. Apakah kita merasa bahwa pada umumnya lawan debat kita kemudian menjadi tunduk dan bergabung bersama mengikuti jalan kita ataukah sebaliknya?

            Inilah yang disebut Allah Subahanahu wata’ala sebagai hikmah dan maw’izhoh hasanah, menasihati tanpa menyakiti, mengajar tanpa menggurui, berdakwah tanpa membebani. Kisah Hasan dan Husain ini kiranya cukup untuk dijadikan ibrah. Ketika keduanya sedang bermain disekitar masjid Nabawi, nampak seorang Arab Badui berwudhu dengan cara yang salah. Sambil menunggu orang Badui ini menyelesaikan shalatnya, Hasan dan Husain berunding bagaimana cara mengajar orang tua ini sementara mereka masih kecil. Akhirnya keduanya sepakat untuk nampak bertengkar bahwa wudhu saya yang lebih baik dan benar, hingga keduanya meminta orang tua ini untuk menjadi hakim. Keduanya lantas memperagakan wudhu mereka masing masing, orang tua itu memandangi kedua cucu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam ini dengan seksama. Setelah selesai, dia memeluk kedua anak ini sambil berkata dengan mata yang berkaca kaca.”…Terima kasih nak, kalian berdua sudah menjadi guru saya dalam berwudhu…!” Allahu Akbar…! dengan hikmah, anak kecil ini sudah menjadi guru tanpa harus menggurui.

            Adakalanya yang baik dan benar itu pahit, maka lihatlah bagaimana tabib membalut obat yang pahit dengan lapisan tipis yang terasa manis agar lebih mudah bagi orang sakit yang mulutnya sudah memang pahit untuk dapat menelannya. Lihat juga bagaimana seorang dokter meyakinkan orang sakit untuk mau disuntik. Sesungguhnya tugas dakwah tidak ubahnya dengan tugas para tabib atau dokter. Maka yang tidak kurang pentingnya bahwa pengemban misi dakwah harus menjadi orang yang terpercaya atau setidaknya dapat dipercaya, sebagaimana dokter atau tabib tadi, yang walaupun orang tidak tahu apa kandungan obat pahit yang harus diminum itu secara detail, dia bersedia untuk meminumnya karena dia percaya. Baginya tidak terlalu penting apa isi kandungan obat itu untuk menjadi sembuh, sekedar dia tahu saja bahwa ini obat sakit kepala, ini obat flu, atau ini obat sakit perut, yang penting dia yakin, percaya dan mau meminum obat. Maka dia akan sembuh dengan izin Allah Subahanahu wata’ala. Begitu pula dengan dakwah ini, tidak terlalu penting untuk menerangkan semua bagian jalan ini dengan detail, bahwa jalan ini terbuat dari apa, berapa campuran batu, pasir dan koralnya, berapa banyak aspal atau semennya, yang penting dia yakin bahwa ini jalan yang benar, ini jalan yang lurus, kemudian dia bersedia berjalan dijalan ini apapun resikonya. Itulah isyarat Allah Subahanahu wata’ala, wa jaadil hum billatii hiya ahsan.

            Selanjutnya, ayat ke 126 Allah Subahanahu wata’ala menerangkan bahwa konsekwensi dakwah ini, meskipun hanya berupa ucapan lisan, tidak mesti akan hanya dibantah dengan lisan juga. Bisa jadi akan dibantah dengan perbuatan atau tindakan yang menyakitkan sebagai balasannya. Maka dalam ayat ini dengan kasih sayangnya Allah Subahanahu wata’ala memberi batasan, jikapun kalian harus mambalas, maka balas saja dengan yang serupa dengan perbuatan mereka.

            Ada seorang Yahudi yang meriba meminjamkan uang kepada seseorang dengan perjanjian, jika tidak dikembalikan tepat waktu, sebagai hukumannya dia akan mengerat dagingnya sebanyak satu pound. Karena kebutuhan mendesak, mereka sepakat atas syarat tersebut. Ternyata pada hari yang mereka sepakati, dia tidak mampu mengembalikannya. Maka dia harus rela dipotong dagingnya sebanyak satu pound. Seorang hakim yang cerdik, menengahi antara keduanya dengan mengatakan. “Baiklah, itu memang sudah perjanjiannya, maka ini pisaunya, potonglah dagingnya sekali kerat satu pound, jangan lebih jangan kurang. Kalau sampai lebih atau kurang maka kami akan mengambil dari dagingmu”. Akhirnya mereka sepakat untuk berdamai tanpa memotong dagingnya.

            Jika kita renungkan, sebenarnya pernyataan Allah Subahanahu wata’ala untuk membalas “seperti”, ini juga merupakan bentuk kasih sayang Allah Subahanahu wata’ala kepada mereka yang menentang dakwah, sebab siapakah gerangan yang mampu membalas persis “seperti” itu. Yang akhirnya tentu akan memilih sabar, “dan sungguh jika kalian bersabar, Allah telah menyiapkan yang lebih baik bagi mereka yang sabar”.

            Setiap da’i hendaknya memperhatikan kaidah ini, karena mereka yang akan didakwahi itu pada dasarnya orang yang suka membuat kerusakan dan suka melampaui batas, maka harus ditunjukkan bahwa meskipun dia dizholimi, dia hanya akan membalas dengan tepat, itupun kalau terpaksa, dan kalau masih bisa sabar, maka sabar itu lebih baik. Dengan pernyataan ini Allah Subahanahu wata’ala ingin mempersempit ruang gerak atau pintu untuk membalas, khawatir lebih. Maka secara kejiwaan setiap da’i harus sadar bahwa dia sebenarnya hanya seorang pesuruh, sebagaimana Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, adalah pesuruh Allah Subahanahu wata’ala, atau dengan kata lain, orang suruhan yang disuruh untuk menyampaikan sesuatu. Maka yang terpenting baginya, sebagai tugas utamanya adalah menyampaikan amanah dakwah ini dengan tepat, tanpa dikurangi atau dilebih-lebihkan. Adapun setelah dia menyampaikan amanat ini, orang tersebut akan, marah, senang, atau pingsan sekalipun, tidaklah terlalu penting. Kalau dia belum faham, maka tugasnya untuk menerangkan sampai dia faham. Kalau dia mau protes, silahkan protes kepada yang menyuruh, karena dia hanya pesuruh, tidak lebih. Maka sesungguhnya semua da’i, tidak perlu bersedih terhadap sikap yang diambil oleh orang lain, karena pesan yang mereka sampaikan ini bukan dari mereka, tapi dari yang menyuruh mereka. Para da’i juga harus sadar bahwa mereka hanya orang utusan yang tidak layak untuk mendebat kecuali dengan yang lebih baik, hingga orang yang disampaikan kepadanya tadi juga sadar bahwa memang benar, para da’i ini hanyalah utusan, percuma berbantah dengan mereka.

            Semoga Allah memandaikan kita untuk menjadi pesuruh dan utusan yang baik untuk meneruskan pesan yang Allah Subahanahu wata’ala turunkan kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam untuk disampaikan kepada ummat manusia dengan tepat, sesuai petunjuk, dan semoga seluruh ummat manusia juga sadar bahwa kita ini hanya pesuruh yang ikut diutus untuk menyampaikan pesan, hingga mereka juga sadar akan batasan hak yang selayaknya bagi setiap utusan. Ya Allah, pakailah kami dan pandaikanlah kami, jangan gantikan kami, dan jangan afkirkan kami, Aamiin. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:

Related Posts