BERBAGAI AZAB UMMAT TERDAHULU AKIBAT MENENTANG ALLAH

TB. Ahmad Husaini

Maha Suci Allah yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk tidak pula tidur. Barang siapa diantara makhluknya yang pandai bersyukur maka ditambah Nikmat oleh-Nya dan barang siapa yang mengingkari-Nya maka Allah Subahanahu wata’ala .  timpakan Azab-Nya.

Azab adalah siksaan dan hukuman. Banyak orang mengira bahwa azab merupakan istilah yang digunakan hanya untuk azab yang besar, berat, dan mengerikan. Hal ini karena penyebutan azab dalam Al-Qur’an seringnya berupa azab yang keras, pedih, hina, besar, berat, kekal, dan sebagainya. Semua itu sebagai bentuk ancaman bagi mereka yang terjerumus dalam syahwat, syubhat, kesesatan, dan pelanggaran.

Namun, Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa Allah  mengancam orang-orang yang menentang dan membuat kerusakan dengan suatu azab selain azab yang besar. Dengan harapan, mereka mau kembali dari kesesatan kepada ketaatan dan tersadarkan dari perbuatannya. Allah Subahanahu wata’ala.  menjelaskan bahwa bencana dan malapetaka yang menimpa orang-orang yang menentang di dunia ini itu hanya azab yang dekat (kecil).

Firman Allah Ta’ala, “Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (kepada ketaatan).” (QS. As-Sajdah/32: 21)

            Adapun hakikat azab yang dekat adalah setiap azab yang dengannya Allah Subahanahu wata’ala  .  mengazab suatu kaum atau individu, di dunia atau di alam kubur, baik bersifat merata di seluruh dunia seperti yang menimpa kaum Nuh maupun secara khusus, seperti yang menimpa  Fir’aun dan bala tentaranya. Firman Allah Ta’ala, “Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al- Ankabut/29:14). “…Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)”.(QS. Al-A’raf: 64).

(Baca juga QS. At-taubah/9:70, QS. Al’A’raf/7:130 dan QS. Al’A’raf/7 : 135-136).

            Azab kadang bersifat hissi (fisik, tampak) seperti ditenggelamkan ke air, dibenamkan ke dalam bumi QS.Hud/11:82, diubah bentuk atau rupa (menjadi kera atau babi) QS. Al-Maidah/5:60, gempa,QS. Al Ankabut/29:37, suara keras yang mengguntur QS. Al-Hijr/15:73. Namun, terkadang azab juga bersifat maknawi (abstrak), seperti dilenyapkan penglihatannya (buta mata), ditutup, dan dikunci mata hatinya (buta hati), ditolak doanya, dan dikuasai oleh setan.

Singkatnya setiap perbuatan manusia yang menentang perintah atau larangan Allah Subahanahu wata’alaseperti sikap congkak mendustakan para nabi dan rasul, membunuh orang-orang yang lemah atau melampaui batas terhadap Allah Subahanahu wata’alaseperti perbuatan musyrik dan berpecah belah pasti akan dikirimkan azab atas mereka.

Firman Allah Subahanahu wata’ala, Katakanlah, “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.

  1. Al-An’am(6): 65

Sejak zaman dahulu hingga saat ini orang-orang jahiliyah terlihat dari pilihan hidup mereka untuk lebih senang bergolong-golongan didalam urusan agama mereka , sebagaimana firman Allah Subahanahu wata’ala: …..tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. Ar-Rum/30:32) mereka memandang bahwasanya yang demikian itulah yang benar, padahal perintah Allah Subahanahu wata’ala begitu jelas dalam Al’Quran, Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama  dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya..”. (QS. Asy-syura/42:13). Baca juga QS. Ali Imran/3:103,105, QS.Al An’am /6:159.

Allah Subahanahu wata’ala terkadang menyegerakan azab dan menimpakannya secara tiba-tiba. Adakalanya pula menunda azab dalam keadaan orang yang tertipu menyangka bahwa ia berada di atas kebaikan. Apalagi jika ia melihat nikmat dan karunia-Nya datang terus-menerus dan silih berganti. Ia tidak tahu bahwa jarak antara dirinya dengan azab     Allah Subahanahu wata’ala  hanya sekejap mata, sebagaimana azab yang menimpa kaum Nabi Luth yang datang tiba-tiba diwaktu subuh.

Firman Allah Subahanahu wata’ala , “Maka ketika datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Huud/11: 82). Padahal sebelumnya Nabi Ibrahim telah meminta untuk menunda datangnya azab tersebut karena adanya orang sholeh yakni nabi Luth  (QS. Al-Ankabut /29:32).

Allah Subahanahu wata’ala  terkadang mengakhirkan azab hingga di yaumil akhir supaya siksaan itu bertambah-tambah. Orang kafir menyangka, penundaan azab Allah Subahanahu wata’ala terhadapnya lebih baik baginya. Firman Allah Subahanahu wata’ala    , “Dan janganlah sekali-kali orang-orang yang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.”  (QS. Ali ‘Imran/3:178).

Orang yang tidak berilmu menyangka bahwa orang kafir berada di atas kebenaran dengan kenikmatan hidup yang mereka dapati berupa kemajuan teknologi dan kemakmuran atas bangsa mereka di dunia. Bahkan tidak sedikit orang yang berilmu berkiblat atas kemajuan dan kemakmuran mereka.  Ia tidak mengira bahwa kenikmatan hidup yang mereka dapati itu hanya bagian dari disegerakannya balasan atas perbuatan mereka. Imam Ibnu Katsir  berkata dalam menafsirkan surat al-Ahqaf ayat 20, “Mereka dibalas sesuai dengan amalannya. Sebagaimana mereka lebih suka memuaskan hawa nafsu, menyombongkan diri dari mengikuti kebenaran, senang melakukan kefasikan dan kemaksiatan, Allah SWT pun membalas mereka dengan azab kehinaan, yaitu kehinaan, kerendahan, rasa sakit yang menyakitkan, penyesalan yang terus-menerus, dan tempat tinggal di lapisan neraka yang mengerikan.”

Semua yang terjadi itu menjadi tanda kekuasaan Allah Subahanahu wata’ala    bagi semesta alam, nasihat bagi orang-orang yang bertakwa, dan peringatan serta contoh bagi siapa saja yang meniru amalan/perbuatan orang-orang yang menentang Allah Subahanahu wata’ala  sejak zaman dahulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang. Karena sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk mendatangkan kembali Azab yang telah ditimpakan kepada manusia sebelum kita. Naudzubillahimindzalik.

“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.” (HR. Bukhari-Muslim). Wallahu’alam.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts