ANTARA KEPEMIMPINAN SEBAGAI FITRAH DAN KHILAFAH SEBAGAI TUNTUNAN SYARI’AH

TARBIYAH 0

Ahmad MS

Kepemimpinan sangat menentukan kebesaran bagi sebuah ajaran, dimana kebutuhan bagi pemikiran dan pengamalan memenuhi relung hati dan alur logika, jiwa dan semangat bagi manusia sesuai fitrah yang telah Allah berikan kepada mereka. Dan agama (Islam) benar-benar diciptakan Allah berdasarkan fitrah itu. Allah SWT berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Qs. Ar Ruum [30] :33).

Atas fitrah itu para pemuka bani Israil meminta kepada Nabi mereka agar diangkatkan seorang raja untuk memimpin mereka dalam berperang di jalan Allah. Hal ini dikisahkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya. “Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja, supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. (QS. Al Baqarah : 246)

 Hijrahnya bangsa kolonis Eropa menuju benua Amerika menuntut mereka secara naluri untuk bersatu dan berkepemimpinan, setelah sekian lama terlibat pertikaian antar kelompok-kelompok kepentingan yang ada dari para pendatang asal Inggris, Prancis, Spanyol dan Belanda. Dari sebuah proses sejarah yang panjang dan berbagai langkah modifikasi sistem pemerintahan yang kemudian menghasilkan perubahan-perubahan sebagaimana diinginkan, sebuah negara besar pun wujud dan berdaulat hingga menjadi Adi Kuasa saat ini. Amerika Serikat (AS) bahkan menjadi ‘uswah’ bagi pelaksanaan sistem demokrasi di banyak negara dunia lainnya. Selain itu orang-orang buangan dari Eropa ke benua Australia atas berbagai kejahatan di negeri asalnya dan para petualang ke benua Kanguru tersebut bertemu dalam satu tanah yang memaksa mereka untuk mewujudkan kepemimpinan lewat sebuah proses sejarah yang tidak mudah. Kedatangan mereka menghapus ‘’Dream Time’’, sebuah alam magis yang abadi dalam keyakinan bangsa tuan rumah, Aborigin.

Sejarah kedua negara tersebut adalah sedikit dari sekian banyak contoh bagaimana manusia melanjutkan kehidupan dan menjaga eksistensi mereka lewat sistem kepemimpinan yang mengakomodir beragam kepentingan. Disana ada ideologi dan semangat yang dibangun dalam usaha pelestarian norma-norma yang diyakini benarnya untuk kebaikan hidup bersama. Demikian proses lahirnya demokrasi, tidak beda jauh dari proses lahirnya komunisme. Semua butuh kepemimpinan bahkan kekuasaan untuk menjamin kelangsungan hidup dan nilai-nilai, yang kemudian tumbuh kembang atas dukungan rakyat sebagai bagian terpenting dari proses itu. Presiden AS ke-35, John F. Kennedy pernah mempopulerkan slogan; ‘’Jangan kamu tanya apa yang diberikan oleh negara kepadamu, tapi tanyalah apa yang engkau berikan untuk negaramu’’ sebuah motivasi untuk menumbuhkan kesadaran kolektif  rakyat dari sebuah bangsa yang mejemuk.

Islam adalah sebuah ajaran dan ideologi global yang tidak hanya terkait ajarannya yang paripurna (kaaffah), tapi juga penganutnya yang tersebar hingga pelosok-pelosok bumi. Sebaran penduduk Muslim disebabkan oleh upaya dakwah para da’i dan proses politik serta sosial dan ekonomi yang mengantarkan mereka hadir di berbagai belahan dunia. Apapun sebab itu cukuplah kita renungi firman Allah SWT berikut, Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al Anbiya [21]: 107).

 Bangsa Arab sebagai bangsa tempat persemaian awal Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebelumnya tidak diperhitungkan dalam percaturan politik global saat itu, dimana Romawi dan Persia  menjadi Adi Daya yang berebut pengaruh dan saling mengungguli satu sama lain. Bangsa Arab hanyalah pelengkap yang ‘mendongak’ dihadapan kemegahan peradaban bangsa lain pada masa itu. Hingga munculnya seorang Nabi yang tiada disangka-sangka dari kalangan mereka (bangsa Arab). Kaum Nashrani sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT masih meyakini akan datangnya seorang Nabi akhir zaman setelah Isa yang bernama Ahmad, namun karena yang muncul ternyata sosok dengan nama Muhammad, mereka menolaknya. Kendatipun dalam sosok Muhammad terdapat berbagai ciri yang tiada dapat disangkal sebagai seorang Nabi sebagaimana disebutkan untuk sosok Ahmad dalam kitab suci mereka, namun kesombongan telah membawa mereka kepada kecelakaan dengan menyebut Nabi SAW sebagai pembawa sihir yang nyata. Allah SWT berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash Shaff [61] :6)

 Dalam perjalanannya terbukti bahwa Muhammad SAW bukan hanya sebagai seorang Nabi dalam arti spiritual tapi juga pemimpin peradaban yang merubah status bangsa Arab dari sekedar pelengkap menjadi penentu dengan bargaining (nilai tawar) yang sangat tinggi. Dalam masa perjuangan Nabi SAW selama 23 tahun semua berubah, terlebih setelah estafeta itu dilanjutkan oleh para Khalifah setelah beliau SAW. Kalau sebelumnya Abrahah pernah memimpin pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah tanpa bisa dihalangi kecuali oleh burung Ababil, selanjutnya negeri Yaman dimana Abrahah memimpin itu kemudian jatuh ke tangan pelukan Islam. Kalau sebelumnya bangsa Arab laksana sebutir pasir diantara bongkahan batu besar Romawi dan Persia, kedua bangsa ini kemudian tersungkur dihadapan peradaban Islam. Persia runtuh dizaman Khalifah Umar bin Khathab, Konstantinopel berakhir riwayatnya ditangan seorang pemuda Turki yang kharismatik, Khalifah bani Usmaniyyah, Muhammad Al Fatih, pada 800 tahun kemudian.

Dalam jatuh bangunnya peradaban Islam, terdapat dua faktor penting yang tak dapat diabaikan, pertama; tingkat kepatuhan kaum Muslimin dalam mengamalkan ajaran Islam sebagai dasar-dasar bagi pijakan pribadi dan kolektif serta pengikat bagi jiwa dan semangat bersama,  kedua; semangat kolektif kaum Muslimin yang diekspresikan dalam wujudnya kepemimpinan sesuai dengan jiwa dan semangat itu sebagaimana yang dincontohkan oleh Nabi SAW dan para Khalifah setelah beliau dimana ada pemimpin yang ditaati dan ada ummat yang mentaati. Disini pula perbedaan mendasar antara peradaban barat dan kepemimpinan yang menjadi gerbongnya dengan peradaban Islam dan gerbong kepemimpinannya, bahwa kepemimpinan barat, baik demokrasi yang lahir di Amerika dan Eropa barat maupun komunis di Eropa timur dan kini kuat di Cina, bahwa ; kepemimpinan  Islam lahir dari petunjuk ajaran Allah dan Rasul-Nya, sedangkan yang lainnya lahir dari sebuah proses sejarah dalam pencarian bentuk yang berlangsung lama tanpa petunjuk.

Saat ini semangat beragama kaum Muslimin sedang menunjukkan peningkatannya, meskipun dimana-mana terjadi krisis moral, insiden-insiden penyerangan fisik dan psikis, bahkan peperangan terhadap negeri-negeri kaum Muslimin, namun kita saksikan bahwa ; kaum Muslimin mulai sadar akan pentingnya kepemimpinan dalam mengekspresikan diri di hadapan khalayak manusia. Hanya saja, semangat ini belum disertai kesadaran untuk menetapi cara yang telah Allah dan Rasul-Nya tunjukkan dalam berkumpul dan bersyarikat. Berbagai bentuk perkumpulan, forum komunikasi, aksi bersama dan lain sebagainya muncul sebagai cara yang dipilih dalam mewadahi kepentingan pribadi dan kelompok yang ada. Dan jika kita ingin jujur semua bentuk itu tidak memberi kaum Muslimin bargaining yang cukup kepada pihak lain untuk mengikuti tuntutan mereka, apalah lagi hasil yang maksimal. Kenapa ?, karena selain kita sebenarnya sangat menyadarinya, musuh-musuh kaum Muslimin pun juga tahu bahwa ; cara berkumpul dan ekspresi yang muncul masih bersifat reaktif dan sesaat, sehingga dengan penanganan sederhana saja semua hilang seiring dengan berlalunya waktu sebagaimana yang sudah-sudah.

Maka kata Khilafah yang saat ini sedang ramai dibicarakan, menjadi buah bibir bagi khalayak manusia, menjadi tranding topic di banyak media,  menjadi tema dialog dan diskusi di berbagai forum, bukanlah sekedar  istilah tanpa makna. Kata Khilafah itu mengandung muatan, kata yang syarat nilai yang dengannya langit, bumi dan gunung-gunung tak kuasa memikulnya (QS. Al Ahzab [33] :72). Khilafah adalah syariah, gema Khilafah sejatinya adalah panggilan nurani, yang menggelegar dan memantul pada dinding-dinding jiwa, mengusik rasa penasaran para akademisi, melejitkan kembali harapan rakyat jelata, mengganggu tidur para politikus dan para penentu kebijakan dunia, sehingga mereka memberi reaksi yang beragam. Namun, apapun cara orang lain dalam menyikapi Khilafah, sikap kaum Muslimin semestinya satu, yakni ; menetapi sistem Khilafah, membaiat seorang Khalifah dan mentaatinya dalam rangka ibadah kepada Allah dan mencari ridho dan rahmat-Nya, karena inilah ajaran yang dengannya kita tak perlu lagi mencari-cari cara dalam berjama’ah tidak perlu  mencari-cari bentuk dalam bersatu, tidak perlu repot meramu pola dalam berkumpul, karena semua itu Khilafahlah solusinya. Mari berjama’ah dan mari mendakwahkan cara berjamaah dengan sistem Khilafah, untuk tersebarnya rahmat bagi semesta alam. (AMS)

Facebook Comments
Tags:

Related Posts