Khilafatul Muslimin - Allah Pergilirkan Kekuasaan
Khilafatul Muslimin - Allah Pergilirkan Kekuasaan

ALLAH PERGILIRKAN KEKUASAAN

TAFSIR 0

Zulkifli Rahman Al Khateeb

“(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka serupa dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’ dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad’ di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar”. (QS. Ali Imran : 138 – 142).

Syuhada’ di sini ialah orang-orang Islam yang gugur di dalam peperangan untuk menegakkan agama Allah. sebagian ahli tafsir ada yang mengartikannya dengan menjadi saksi atas manusia sebagai tersebut dalam ayat 143 surat Al Baqarah.

Jihad dapat berarti : 1. berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam, 2. memerangi hawa nafsu, 3. mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam, 4. Memberantas yang batil dan menegakkan yang hak.

 

Al Quran ini adalah “Bayan” bagi seluruh manusia, artinya bahwa semua penjelasan dalam kitab ini tidak hanya memberikan argumen yang jelas untuk orang yang beriman saja akan tetapi untuk seluruh manusia dan sebagai petunjuk dan nasihat bagi orang yang taqwa.

Maka janganlah kalian merasa hina, merasa rendah ataupun merasa sedih, sebab kalian lebih tinggi jika kalian beriman. Maksud ungkapan ini adalah supaya orang beriman  jangan merasa lemah meski apapun yang menimpa. Mereka yang pernah atau sering di timpa berbagai cobaan, umumnya lambat laun akan menjadi lemah, maka bagi kita yang beriman, seburuk apapun kondisi fisik akibat berbagai cobaan, tidak boleh berpengaruh pada lemahnya jiwa karena keyakinan akan datangnya pertolongan Allah. Allah bersama kita, pasti menolong kita pada saat yang tepat. Allah Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana dan Maha Segalanya.

Kondisi pasca perang Uhud, kaum muslimin merasa sedih karena banyaknya korban jiwa dikalangan mereka. Maka ayat yang mulia  ini turun sebagai hiburan, agar mereka tidak bersedih atau kecewa atas kenyataan yang ada, agar tidak rapuh jiwanya atau lemah imannya. Untuk itu Allah memaparkan perbandingan kondisi yang terjadi di kalangan musuh pada peperangan sebelumnya (perang Badar) yang pada dasarnya kerugian di pihak musuh sebanding dengan kerugian yang di derita oleh kaum muslimin.

Kemenangan dan kekalahan adalah hal biasa yang memang di pergulirkan Allah dikalangan manusia. Ayat ini juga memberi isyarat bahwa kekalahan itu disebabkan oleh penyimpangan dari garis yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah, bahwa para pemanah tidak boleh meninggalkan bukit, apapun yang terjadi hingga ada perintah turun. Akan tetapi mereka melanggar dan menyimpang dari aturan, maka terjadilah apa yang telah terjadi itu. Hal ini juga merupakan ujian agar dapat diketahui dengan jelas siapa saja yang memang beriman dan siapa saja yang pada dasarnya hanya mengaku beriman saja.

Sebelum ada ujian, siapa saja dapat memuji dirinya bahwa dia akan begini dan begitu, akan tetapi setelah melalui ujian, terungkaplah kenyataan yang sebenarnya. Dari kenyataan yang terungkap inilah kemudian Allah mengambil /menentukan yang syahid sebagai kehormatan bagi sebahagian mereka. Dan Allah tidak menyukai orang yang zalim, yaitu orang yang menipu orang lain dengan menampakkan keimanan, ketulusan dan ketaatannya padahal sebenarnya tidak demikian.

Jika dilihat secara zahirnya, kalimat “wa liya’lamallaah…” artinya supaya Allah mengetahui, bukan berarti Allah tidak mengetahui, akan tetapi maksudnya bahwa supaya apa yang Allah ketahui, dapat juga diketahui oleh hamba-hamba Allah yang lainnya.

Selain itu, semua ujian dan cobaan yang berupa kemenangan dan kekalahan itu adalah untuk membersihkan mereka yang beriman dan membinasakan mereka yang kafir. Ada sebagian orang, jika diuji dengan kemenangan, bertambah kuat imannya, sementara jika diuji dengan kekalahan, maka dia lantas berpaling kebelakang. Sebagaimana pula ada orang yang jika diuji dengan kemiskinan, dia mampu bertahan dalam kebenaran, sementara jika diuji dengan kekayaan, serta merta imannya menjadi luntur. Begitu pula sebaliknya. Maka ujian kemenangan dan ujian kekalahan diujikan Allah silih berganti pada hamba-Nya agar nampak jelas emas dari loyangnya.

Pada ayat 142 Allah membantah persangkaan mereka yang mengira bakal masuk Surga dengan hanya sekedar melafadzkan dua kalimat syahadat tanpa menunjukkan bukti perjuangan dan bukti kesabaran.

            Pada hakikatnya Allah sudah mengetahui siapa saja yang bakal masuk Surga, akan tetapi Allah memberikan berbagai ujian agar secara yakin dan mantap, menjadi permakluman kepada yang lainnya.

Jika kita cermati lebih dalam, sehubungan dengan kondisi kekinian kita, ayat ini menuntut kita untuk berjuang dan bersabar agar mendapat Surga. Mereka yang mengira bakal pasti masuk Surga hanya dengan goyang-goyang lidah, tentunya segera sadar bahwa Surga itu bukanlah barang murahan. Para sahabat terdahulu telah membuktikan perjuangannya untuk meraih Surga, dan mereka telah dinyatakan pantas meraihnya. Mereka telah ditimpa berbagai ujian, berupa kesengsaraan, kemelaratan, dan di guncangkan dengan sangat sebagaimana diterangkan Allah dalam surah Al Baqarah (2) : 214. Allah berfirman,

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat”.

Pertolongan Allah yang amat dekat itulah yang sedang kita nanti, sementyara Allah hanya menolong mereka yang memang pantas untuk ditolong. Maka kita hanya perlu meraih kepantasan untuk ditolong Allah, maka kemenangan sudah didepan mata. Apalagi dengan melihat berbagai bentuk ketidak adilan dan penyimpangan yang sudah pada puncaknya, tinggal sedikit lagi saja kesabaran kita yang dibutuhkan untuk sampai pada kemenangan dengan izin dan pertolongan Allah.

Semoga Allah memberi kita kemenangan atau memilih kita sebagai Syuhada’ dengan berjuang dijalanNya dan semoga Allah bimbing kita ke arah yang di ridhai-Nya. Aamiin.

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts