MUWAFIQ
Abdul Qadir Hasan Baraja'


”Dan siapakah yang lebih dzolim dari pada orang yang telah diperingat kan dengan ayat-ayat Robbnya, kemudian ia berpaling dari pada nya? Sesungguhnya Kami akan memberikan balasan kepada
orang-orang yang berdosa ”
(QS.As-Sajdah/32:22 )

Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa ternyata ada manusia yang diingatkan dengan ayat-ayat Allah bukan nya bertambah baik tetapi sebaliknya bertambah jelek. Orang yang seperti itu adalah lebih dzolim dari kedzoliman yang lainnya .
Kalau saja kita diingatkan oleh teman kita dengan pikirannya lalu kita menolaknya itu saja pertanda kita tidak berfikir, apalagi kita diingatkan dengan ayat-ayat Allah, lalu ditolaknya padahal ia mengaku Islam, Ini adalah peng hambat pembawa misi Al-Haq, sebab menolak ayat-ayat Allah SWT .
Ahli kitab tidak berselisih pen dapat, tetapi setelah datang bukti/kete rangan yang jelas justru malah menjadi berselisih. Dan sekarang banyak kita dapati orang yang mengaku beriman tetapi prilakunya seperti Bani Israil. Dalam hati mereka terdapat BAGHYAN/Kesyirikan/ke tidak senangan/kedengkian. Firman Allah SWT, Artinya: ”Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian yang ada diantara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.(QS.Ali-Imron:19 ).
Maka dalam membawa misi Al Haq kepada masyarakat, kita berupaya menerangkan dalil kepada mereka tetapi justru mereka menolak dalil tersebut, karena memang itu sudah Sunnatullah. Yang repot adalah bila dalam jama’ah kita diingat kan malah justru bertambah kendor, contoh : Ta’lim pertama aktif selanjutnya kendor bahkan bosan. Padahal sebenarnya peringatan yang disampaikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an menuntut pembuktian nyata dalam kehidupan, dalam sam’an wa thoa’tan, sebab bukan sekedar ilmu yang perlu di ketahui tetapi perlu pembuktian. Kalau diingatkan tidak mem buktikan tetapi malah berpaling. Bila tetap berpaling maka itulah dzolim dan ini meru pakan bagian dari kurangnya kesadaran .
Kami (Allah) pasti membalas setiap dosa yang dilakukan, dan paling lambat balasan itu diberikan di akhirat. Setiap yang berbentuk dosa selalu ada ancamannya dan setiap yang berbentuk kebaikan pasti ada janji yang indah dan kita ini hidup bertahan pada dua sisi itu untuk memilih dan bersikap dan ini hanya bagi orang yang beriman sebab yang tidak beriman dia tidak akan ber musabaqoh fiylkhoyrot. Orang kafir itu tidak berfungsi peringatannya kecuali bila men dapat petunjuk sebab mereka mendengar tetapi tidak untuk dilaksanakan (sami’ nawa ashoina ).
Disinilah kita bertaruh untuk men dapatkan keridho’an Allah SWT, dan dengan tekad yang kuat kita menghindar dari segala bentuk kemaksiatan. Ada pun janji dan balasan Allah tidaklah mutlaq di akhirat saja tetapi dari dunia sampai akhirat .
Ini adalah ketentuan Allah. Bagai mana teknisnya itu terserah kepada Allah, sebab Dia-lah yang Maha Pandai mene tapkan dan mengatur balasannya baik di dunia maupun di akhirat. Yang pasti baik dan buruk itu ada balasannya.Oleh karena itu kita pasti akan mendapatkan ujian yang baik dan yang buruk, yang susah dan yang senang lalu selesainya ujian itu adalah kematian .
Firman Allah SWT, yang artinya : ”Setiap yang bernyawa pasti akan merasa kan mati dan Kami akan mengujimu dengan keburu kan dan kebaikan sebagai ujian. Adapun manusia apa bila Robb mengujinya lalu dimu liakan nya dan diberi kannya kese nangan, maka dia berkata Robbku telah memulia kanku. Adapun apa bila Robb mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata Robbku menghinakanku. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin. Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil). Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”. (QS.Al-Fajr/89:15-20 ).
Ada manusia yang mengatakan bahwa bila dia sedang menemui kegagalan maka dia sedang di uji dan pertanda Allah sedang menghinakannya dan sebaliknya bila dia mendapatkan keberhasilan per tanda Allah memuliakannya. Sebagai Contoh : Seseorang yang akan melamar atau meminang maka yang ditanyakan terlebih dahulu adalah berapa jumlah kekayaannya! bukan akhlaq ataupun ketaqwanya! Yang di tanyakan .
Dari perkataan seperti itu maka muncullah kesimpulan kalau kaya di hormati dan kalau miskin dihinakan, ini berimbas pada aktifitas mu’amalah manusia. Dimana mereka juga tidak memuliakan anak yatim, tidak mem perdulikan orang miskin, memakan harta yang bercampur (halal dan haram) serta mencintai harta dengan cinta yang berlebi han. Dan mereka berangga pan bahwa hidup ini hanya untuk makan sepuasnya se perti makannya binatang .
Firman Allah SWT, yang artinya “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (didunia) dan mereka makan seperti makannya bina tang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka”(QS.Muhammad/47:12 )
Apabila kita mau beribadah maka ibadah itu tidak bisa dilaksanakan bila dengan bermalasan dan tidak serius, sifat dan sikap santai dalam beribadah dan tidak disiplin, itu akan membuat nilai ibadah kita menjadi tekor. Serius bukan teledor, tepat waktu itu serius dan yang parah lagi kalau yang wajib saja tidak terpenuhi. Hadits : “Manusia pada waktu kejadiannya 3x40 hari lalu ditiupkan ruh kedalam dirinya dan dicatat/ditetapkan rizki, ajal, amal dan susah/senangnya .
Ada istilah ‘Ma’aayisy’ yang berarti lapangan kerja, susah senang tidak hanya terpaut dengan harta, dimana yang malas lalu menjadi miskin akan berdosa dan yang tidak malas tapi tidak miskin tidak berdosa. Bukan hasilnya yang dinilai tetapi upaya maksimal, bukan beresnya pekerjaan tetapi benarnya pelaksanaan kerja .
Waktu merasakan kesusahan sebaik nya kita berfikir bahwa ada rahasia Allah dibalik kesusahan yang dirasakan sebab rahasia Allah selalu ada dibalik perintah dan larangan. Susah dan senang itu makar Allah. Maka bertawakalah kepada-Nya dan tanya kan pada diri kita sudah benarkah atau masih salahkah kita kepada Allah? Kalau masih salah maka perbaikilah diri kita dan jauhi segala macam perbuatan maksiat. Kalau benar itulah yang disebut “Muwafiq”. Inilah beberapa kenyataan untuk disimpulkan, kita ini hidup dalam keadaan salah atau benar .
Disarikan dari Taushiyah Kholifah
oleh Katibul Kholifah (Imam Syaukani )

SUDAHKAH ANDA BERJAMA’AH?
Jama’ah adalah wadah bagi kehidupan bersama seluruh kaum muslimin/muslimat di muka bumi ini untuk melaksanakan ajaran Islam di bawah seorang Imam / Khalifah / Amirul Mu’minin sebagai pemimpin, dengan sistem kekhalifahan sebagai sistem kekuasaan mereka. Tanpa jama’ah maka mustahil ummat Islam dapat melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan kecuali hanya dalam bentuk-bentuk ritual secara pribadi sebagai bagian bagian kecil dari keseluruhan prioritas Al-Qur’an. Maka untuk melaksanakan Islam secara kaffah sesuai perintah, ummat Islam diwajibkan berjama’ah dan mentaati Ulil Amri.
Firman Allah

Artinya :
Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasulullah serta Ulil Amri (penguasa) dari kalian. (QS.An-Nisaa 59)
Dalam ayat tersebut Allah telah mewajibkan setiap orang yang beriman (laki-laki maupun perempuan) agar mentaati-Nya dan juga mentaati Rasulullah SAW serta Ulil Amri mereka; dan ini tidak dapat dibenarkan seorang mu’minin merasa cukup dengan hanya taat pada Allah dan Rasul-Nya saja dalam hidupnya, sebab wajib punya Ulil Amri yang akan memimpin kaum muslimin sedunia untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya. Seorang mu’min tidak akan dapat membela diri dihadapan Allah kelak dengan berdebat; bahwa ia setelah memahami ajaran Islam, lalu merasa tidak lagi memerlukan keberadaan Ulil Amri, lalu mengamalkan Islam menurut kehendaknya sendiri tanpa diatur oleh Ulil Amri, karena berarti ia menolak perintah Allah dan Rasul-Nya.
Ulil Amri dimaksud berkewajiban memimpin ummat berdasarkan ajaran Allah dan rasul-Nya dan tidak boleh menentukan kebijaksanaan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu mereka wajib menjadikan Al-Qur’an dal Al-Hadits sebagai sumber segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Di bawah kekuasaan mereka itulah ummat Islam wajib bersatu sebagai satu jama’ah dan tidak boleh berpecah belah. Islam tidak perlu membenarkan adanya dua atau lebih jama’ah yang tidak dapat disatukan dibawah satu kepemimpinan Rasulullah SAW sampai zaman Al-Khulafaur Rosyidun, Ummat Islam tidak pernah dipimpin oleh dua kepemimpinan yang tiada bersatu kecuali salah satunya diperangi (pelajari sejarah peperangan antara Khalifah Ali ra, melawan Muawwiyah)
Firman Allah :

Artinya :
Dan jika dua golongan dari orang-orang beriman berperang, maka islahlah (damaikanlah) satu diantara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu melampaui batas atas yang lainnya, maka perangilah golongan yang melampaui batas itu sehingga ia kembali kepada perintah Allah. Jika golongan tersebut kembali maka adakanlah ishlah antara keduanya secara adil dan berbuat adillah kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al Hujurat 9)
Apabila seorang Imam meninggal wajib atas kaum muslimin untuk segera memilih penggantinya, melalui musyawarah wakil-wakil mereka (Ahlul Halli wal Aqdi) ataupun para pembesar kaum/golongan-golongan yang ada dalam masyarakat di bawah kekuasaan pemerintahan Islam yang mengerti dan memahami permasalahan tersebut secara adil jujur dan ikhlas. Pemilihan seorang Imam/Khalifah/Amirul Mu’minin tidak boleh bertele-tele, sehingga mengakibatkan ummat berada dalam ketiadaan Imam dalam waktu lama, padahal hidup tanpa Imam menyebabkan kematian seorang muslim disebut mati jahiliyah.
sabda Rasulullah Saw :
من ما ت وليس في عنقه بيعة ما ت ميتة جاهلية
( رواه مسلم)
Artinya :
Barang siapa mati padahal tidak ada ikatan bai’at di lehernya maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah. (HR. Muslim)
Bai’at dalam hadits tersebut adalah bai’at kepada seorang Imam/Khalifah dengan kewajiban sam’an watha’atan terhadap seluruh perintahnya yang ma’ruf/tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun orang yang merasa tidak mempunyai ikatan bai’at terhadap seorang Imam/Khalifah maka ia mati sebagaimana matinya orang-orang jahiliyah, bukan mati sebagaimana mestinya kematian seorang muslim. Oleh karena itu wajib atas seluruh golongan kaum muslimin untuk bermusyawarah guna memilih seorang Imam sebagai pemimpin semua lapisan masyarakat Islam sehingga tetap terwujud Jama’ah bagi keseluruhan kaum muslimin sebagai wadah bagi keseluruhan ummat Islam termasuk semua golongan/firqah atau jama’ah-jama’ah minal muslimin. Apabila terbukti bahwa kelompok-kelompok / golongan-golongan / firqah-firqah / organisasi-organisasi karena kedengkian dan kekerasan hati mereka, dari dorongan ambisi masing-masing golongan/jama’ah minal muslimin itu, ataupun karena kebanggaan masing-masing golongan sehingga berakibat perpecahan di kalangan ummat Islam, maka jelaslah bahwa jama’ah minal muslimin tersebut keseluruhannya adalah berada dalam status kemusyrikan, apapun alasan mereka. Yang demikian itu adalah kesesatan yang lebih jauh/sebagai fi’ah dhalalah dan menyesatkan ummat. Mereka wajib ditinggalkan oleh setiap muslim untuk bergabung dengan jama’ah dan Imam bagi keseluruhan kaum muslimin.
Dalam ketiadaan jam’ah dan Imamah, sementara setiap pribadi muslim tidak lagi terikat dengan firqah-firqah yang masing-masing membanggakan diri, tentu akan lebih mudah mereka bermusyawarah untuk bersatu dari sejumlah person yang sadar diantara mereka, sebab tidak ada lagi hubungannya dengan keterlibatan firqah-firqah yang membanggakan diri itu.
Mereka yang sadar inilah kemudian akan mengumumkan kekhalifahannya walaupun hanya mengenai sedikit wilayah dan sejumlah ummat. Maka telah terwujudlah kembali Jama’ah dan Imam bagi keseluruhan kaum muslimin, meskipun masih banyak firqah-firqah sesat yang tidak meyakininya. Apabila kesadaran sedemikian ternyata tumbuh diberbagai negeri/wilayah yang berlainan sehingga masing-masing mengumumkan pernyataan sebagai jama’ah dalam sistim Khilafah dan memberlakukan hukum/syari’at Islam sesuai kondisi dan situasi maka hal tersebut patut disyukuri oleh setiap muslim demi wadah kesatuan ummat Islam menghindari perpecahan mereka berfirqah-firqah/jama’ah-jama’ah minal muslimin yang tidak sudi bersatu dalam satu wadah kekuasaan kaum muslimin, untuk kemudian mereka bermusyawarah untuk mewujudkan jama’ah dan Imamah ditingkat Internasional.
Telah dengan jelas dan tegas Islam melarang perpecahan ummatnya secara mutlaq, kapanpun dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun melalui hizb-hizb yang bima ladaihim farihun kecuali wajib bersatu dalam satu jama’ah dan Imamah tanpa boleh meragukan jama’ah sebagai satu-satunya wadah ummat yang benar. Dalam sebuah hadits dari Huzafah ibnu Yaman diterangkan :
Artinya :
Dari Hudzaifah bin al Yaman ra berkata : Orang banyak bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, adapun aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan khawatir akan menimpa diriku. Maka aku berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami (dahulu) berada dalam kejahiliyahan dan kejelekan, lalu Allah mendatangkan kebaikan (sekarang) ini. Maka apakah sesudah kebaikan itu akan ada kejelekan ?” Rasulullah menjawab : “Ya” Akupun bertanya, “Apakah setelah kejelekan itu ada kebaikan ? “Rasulullah SAW menjawab : “Ya, namun terdapat kerusakan didalamnya”. Akupun bertanya “Apakah kerusakan itu ?” Rasulullah SAW menjawab : “Suatu kaum mengambil sunnah bukan dari sunnahku dan mereka pun menerima petunjuk bukan dari petunjukku kamu kenal mereka tetapi kamu mengingkarinya”. Aku bertanya : “Maka Apakah sesudah kebaikan itu akan ada lagi kejelekan ?” Rasulullah menjawab : “ Ya, yaitu para penyeru di atas pintu neraka jahanam, siapa yang menerima ajakannya maka ia terjerumus ke dalam neraka jahanam itu”. Akupun bertanya kembali : “Wahai Rasulullah beritahukanlah kepada kami sifat-sifat mereka itu”. Rasulullah bersabda : “Mereka itu adalah dari bangsa kita dan merekapun berbicara dengan bahasa kita”, maka apakah yang engkau perintahkan padaku jika keadaan itu menimpaku. Rasulullah bersabda : “ Hendaklah kamu tetap berada di dalam satu jam’ah kaum muslimin dan Imam mereka”. Aku bertanya : “Bagaimana caranya jika tidak ada jama’ah dan Imam bagi mereka itu ?”, Rasulullah bersabda : “Hendaklah kamu tinggalkan semua golongan yang ada, meskipun kamu terpaksa memakan akar-akaran kayu sehin |